Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Sang Pemimpi Maret 4, 2013

Filed under: Menerung — Mr. Acim @ 4:12 pm

Apa kabar Mit? Lima tahun seperti baru kemarin saja. Aku masih ingat bagaimana raut mukamu ketika tersenyum atau kala cemberut. Aku juga tak lupa bagaimana engkau gugup atau malu kalau aku tatap wajah tirusmu. Wajahmu itu Mit, cantik dengan mata sayu dan siluet senyum yang punya makna khusus hasil dari bertahun-tahun pengembaraan jiwa dan pikir. Iya aku tak akan lupa Mit. Bahkan tanggal ulang tahun, bagaimana kita pertama berjumpa, apa saja yang pernah kita obrolin pun masih gagah terpahat di prasasti memoriku.

Barangkali lima tahun sudah cukup untuk membuatmu melupakan atau menurunkan derajat pertemanan kita dari kawan dekat ke sekadar kenalan. Memang aku adalah bagian dari masa lalu yang tidak memberi kontribusi apapun buat kamu Mit. Tetapi bagiku, engkau adalah bagian dari memori indah. Engkau adalah bagian cerita dari kondisi ketika hidupku berada dalam pusaran keputusasaan, kepedihan, kemelaratan, ketidakmenentuan dan disorientasi. Engkau adalah salah satu tokoh dalam cerita hidup episode ‘kekalahan’ yang pernah aku hadapi.

Engkau mungkin ingin tahu bagaimana kabar aku setelah hampir lima tahun kita tidak ketemu Mit. Jawabannya tidak banyak berubah. Lima tahun memang memberi banyak warna bagi hidupku Mit. Lima tahun lalu aku bermimpi untuk memiliki usaha sendiri, sampai saat ini pun tak terbukti. Aku pernah punya kantor sendiri, aku pernah punya bisnis sendiri, tetapi itu pun tinggal cerita basi. Aku pernah berniat kembali ke duniaku yang lama, menjadi jurnalis, namun kenyataanya hanya lamis (bahasa Jawa: sekadar ucapan tidak menjadi kenyataan).

Sebenarnya ingin rasanya aku ketemu engkau Mit. Berbagi cerita dan bercengkerama. Tetapi aku malu Mit dengan keadaanku sekarang. Lima tahun engkau mereguk sukses dan sudah mendapatkan kemajuan-kemajuan. Sedangkan aku? Aku masih saja jadi pemimpi. Aku masih saja seorang pengangguran tak jelas. Aku memang bekerja di salah satu perusahaan dan pernah mengalami masa jaya yang tak seberapa. Aku bisa memiliki penghasilan lumayan. Tapi hatiku hampa Mit. Aku tak menemukan kepuasan dari pekerjaan ini. Aku memiliki banyak utang. Aku beberapa kali ditipu dan dimanfaatkan oleh rekan bisnisku. Aku memang bertemu banyak orang hebat, tapi tak sedikit juga yang sebenarnya bandit jahat yang pintar sekali memanfaatkan tangis dan cerita manis.

Whatever Mit, aku kangen kamu. Aku kangen bercerita tentang apa saja dengan kamu. Apa aku masih menyimpan rasa cinta itu? Aku tak tahu Mit. Yang pasti kadang terselip keinginan jalan-jalan lagi sama kamu seperti dulu. Ah tapi aku tahu diri Mit. Kau bukan cewek single seperti dulu. Engkau kini istri orang dan aku lajang. Aku masih pengelana di padang gersang.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s