Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Gendut Oktober 23, 2007

Filed under: Rindu — Mr. Acim @ 3:35 am

Engga tau kenapa aku selalu ingin tersenyum sendiri kalau ingat judul itu. Pertama kali kau sebut kata gendut, kalau tidak salah waktu kita makan di restoran vegetarian di dekat Jalan Gajah Mada. Waktu itu aku bertanya apakah engkau tidak tertarik untuk mendaftar sebagai SPG acara Jakarta International Motor Show yang biasanya digelar bulan Juni-Juli. Bukan tanpa sebab aku tanya begitu. Aku pernah lihat fotomu kala menjadi SPG untuk sebuah operator CDMA Esia. Kau memakai kaos dan celana warna putih. Sayang, kualitas foto yang kau tayangkan tidak begitu tajam dan jelas.

Aku masih ingat jawabanmu kala itu. ”Itu dulu. Waktu gue belum gendut kayak sekarang,” katamu sambil cengar-cengir. Reaksiku saat itu biasa-biasa saja. ”menurut gue elo engga gendut,” balasku. Aku memang tak melihat engkau masuk kategori atau layak didaftarkan dalam klub orang-orang gendut. Engkau tidaklah segendut Tike Suriapriatna, Dewi Hughes atau si penyanyi dangdut Anisa Bahar. Hehehe, aku heran mengapa makhluk perempuan selalu cemas dengan kegendutan. Padahal sebenarnya engkau tak punya bakat gendut, Mit. Lihat saja mamamu sekarang, kurus bukan? Ada omongan ngawur tak jelas asalnya yang bunyinya begini : kalau pengen lihat seperti apa seorang cewek kalau jadi ibu rumah tangga nanti, lihat saja ibunya. Maksudnya, kalau sang ibu tampak gendut maka begitu pula bentuk badan si cewek pada saat seumur ibunya saat ini.

Setelah obrolan kita di restoran vegetarian itu, aku tak mendengar lagi kata gendut meluncur dari bibirmu, Mit. Baru setelah kita menghabiskan waktu buat belanja keperluanmu sebelum pergi ke Australia, aku dengar lagi kata itu. Kau bilang tak pede lah, tubuhmu gendut lah, pengen langsing kayak badanku-lah dan lain-lain. Aku sampai tak sempat menghitung berapa kali kau sebut kata-kata itu. Mungkin karena itulah pertama kali itu kita jalan belanja baju yang tentu saja menjadi ukuran gendut tidaknya seseorang. Aku sendiri tak begitu peduli, Mit. Engkau tak pernah kulihat dari bentuk dan ukuran tubuh. Bagiku terlalu dangkal dan picik menilai seseorang dari bentuk tubuhnya, dari ukuran-ukuran fisiknya.

Hari Minggu saat kau mulai masuk karantina, aku bertemu teman-temanku mantan wartawan-wartawan dari kantorku bekerja dulu. Kita buka bersama di Dapur Babah, restoran di dekat masjid Istiqlal. Seorang temanku tiba-tiba tertarik melihat foto-foto dari kamera digital yang kubawa. Aku tanyakan ke teman itu,” Dia gendut engga?”. Tak kusangka jawabannya membuatku nyengir. ”Iya emang gendut,” katanya tanpa dosa.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s