Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Australia Oktober 23, 2007

Filed under: Curhat — Mr. Acim @ 3:29 am

Australia. Negeri yang dalam istilah geopolitik disebut Asia Putih ini memberi kesan dalam bagiku dan tentu saja bagi engkau, Mita. Kau mendapat kesempatan untuk menikmati hidup di luar pagar rumah yang lama kau cita-citakan. Menetap sekian bulan di negeri seberang lautan itu. Semuanya gratis. Kau beruntung, Mit. Kau pun boleh berlega hati. Kau bisa menjadi dirimu sendiri, lepas dari bayang-bayang yang sekian lama tak kuasa kau lepaskan.

Mungkin begitu berartinya arti negeri itu bagimu, hingga kau seperti tak suka bila aku masuk dalam pikiranmu menyinggung nama itu.

”Lo mau ke Aussie, Mit? Kapan?,” tanyaku suatu hari.

”Belum tentu. Itu kan kata temen2 gue,” balasmu singkat.

Itu percakapan kita pertama tentang Australia. Setelah itu seperti gelombang pasang, ia reda.

Pentas seni itu rupanya tentang Australia juga. Karena engkau tak pernah terbuka, aku hanya menduga-duga ada gawe besar yang tengah kau kerjakan. Benar saja. Engkau tak mau diganggu barang semenit pun. Bahkan kau dengan sengaja mengaburkan informasi tentang kampung yang katakan bakal jadi tempat manggung. Sampai-sampai aku hanya bisa gigit jari karena waktu dua minggu di Jakarta hanya menjadi pekerjaan sia-sia. Aku hanya bisa bilang I miss U tanpa bisa bersua. Lagi-lagi aku tahu Mit, kau tak ingin diganggu, apalagi diajak bertemu.

Akhirnya ada yang jelas darimu, Mit. Kau tak membantah akan berangkat ke Australia. Ya…aku gembira. Aku bangga padamu Mit. Kau mampu, kau pantas mendapatkan anugerah itu.

Beruntung kau mau berbagi tentang Australia tepat sebelum kau pergi. Aku senang, kau memberiku waktu, Mit. Membuatku tahu tentang beratnya tugas yang kau emban. Dalamnya dampak bila engkau tak serius menjalankan. Termasuk pengaruhnya bagi dirimu untuk masa mendatang. Aku mengerti. Aku tahu. Maka dari itu, tak ada oleh-oleh yang kuharapkan darimu, Mit. Aku hanya ingin kau berhati-hati. Aku ingin kau selamat. Aku ingin kau sehat. Aku ingin membantumu, meski itu hanya dengan berharap.

Sayang, aku keliru lagi Mit. Aku lupa kau dipercaya menjadi moderator. Menjadi penjaga suasana acara. Menjadi pemandu. Tentu saja kau tak ada waktu apalagi untuk diganggu. Kau bilang tak ada niat berpura-pura atau tidak membalas SMS. Kau sibuk.

”Kapan-kapan gue jelasin via email. Please don’t hate me,” katamu saat itu. Aku pun menunggu. Sambil terus berharap ada pesan yang kau kirim ke inbox emailku. Saat-saat seperti ini, aku ingat suara Pasha Ungu saat mendendangkan bait lagu Masih di Sini. Aku memang bukan Pasha. Menyanyi saja aku tak bisa. Tapi aku tahu mengapa ia begitu ekspresif menyanyikannya. Ia begitu menghayati lagu itu. Ia mengerti betapa tak enaknya mengerjakan satu kata : menunggu.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s