Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Air dan Cinta Oktober 23, 2007

Filed under: Menerung — Mr. Acim @ 3:30 am

Aku tak pernah mengenal Dr. Masaru Emoto. Bertemu, menyapa, berbicara atau mengirim email kepada pria Jepang itu, tak pernah kulakukan. Cuma secuil tulisannya begitu membekas dalam otak kiriku.

Mit, ia menulis tentang air dan tentang manusia. Ia menulis tentang manusia yang 80 persen tubuhnya terbuat dari air. “Manusia pada hakekatnya adalah air. Reaksi yang dialami oleh air maka akan paralel juga pada manusia juga,” begitu kira-kira inti tulisan yang aku baca dalam bukunya The True Power of Water.

Dr. Emoto meneliti tentang air yang ternyata bereaksi positif bila mendapat penghargaan dan bereaksi negatif bila mendapat celaan, hujatan dan sejenisnya. Emoto membuktikan kalau sebenarnya air adalah makhluk yang hidup, persis seperti yang disebut dalam agama kita. Air yang “dihargai” bakal menunjukkan kristal yang memiliki bentuk indah saat dibekukan. Sebaliknya air yang mendapat celaan juga membentuk kristal namun wujudnya rusak, tak teratur.

Dalam bukunya, Emoto menyinggung tentang nasi yang juga mayoritas komponen penyusunnya adalah air. Katanya, ada keluarga yang mengamati perilaku nasi. Tiga jumput nasi yang ditaruh dalam wadah, diperlakukan berbeda oleh keluarga itu. Tiap pagi, keluarga itu mengucapkan “Terima Kasih dan Cinta” pada nasi pertama. Yang kedua diberi ucapan “Kamu bodoh” dan yang terakhir didiamkan saja tanpa diberi ucapan sama sekali. Setelah diamati, ternyata nasi yang pertama paling lama membusuk alias paling awet dan nasi ke tiga adalah yang paling cepat busuk.

“Rupanya nasi lebih bisa merespon ungkapan Kamu Bodoh daripada nasi yang tak diapa-apakan sama sekali,” begitu penjelasannya. Ia lantas membandingkan dengan perilaku karyawan di perkantoran yang bakal lebih cepat stress bila tidak diberi job yang jelas dan tidak diajak bicara. Karyawan jenis ini adalah tipe nasi yang ketiga. “Ujung-ujungnya karyawan yang diperlakukan demikian akan keluar dan bisa jadi bunuh diri,” tambah Emoto.

Ada pelajaran berharga dari kisah Emoto tadi, Mit. Rupanya mencaci maki orang lain masih bisa diterima oleh yang bersangkutan daripada tidak mengajaknya bicara sama sekali. Bersikap cuek justru lebih menyakitkan dari pada bersikap memusuhi. Tapi tentu saja, jauh lebih baik memberi penghargaan kepada air atau nasi seperti kita menghargai orang lain.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s