Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Salah Tulis Oktober 9, 2007

Filed under: Memori,Rindu — Mr. Acim @ 5:38 am

Kalau ada yang menyenangkan untuk kenangan, aku juga punya pengalaman tak mengenakan. Pertama kali bertemu engkau adalah malapetaka buatku. Aku semula membayangkan pertemuan yang manis, penuh obrolan mengasyikan atau canda tawa menyegarkan. Hehehe…sebetulnya malu mengatakannya, tapi inilah kenyataan. Tulisan di koranku adalah pemicu keisenganku. Jakfar Shodik, wartawan di koran tempatku bekerja, menyodorkan foto dan tulisan tentang kegiatan lomba news presenter di Bintaro, suatu hari di bulan Juni 2006. Aku tak begitu tertarik.

“Ah…berita biasa banget,” pikirku waktu itu di kantor kami di Biro Tangerang. Berry, redakturku, tiba-tiba berguman. “Wah…cakep”. Saat itu aku baru ngeh ada yang menarik perhatian mereka. Ternyata foto kamu di sana berikut profil singkat yang ditulis di bawah rubrik Etalase. Jakfar, anak Madura yang lugu itu, rupanya terprovokasi dan tampak bangga karena mendapat pengisi rubrik yang cantik. Ia juga nerocos kalau pengisi rubrik Etalase kali ini orangnya asyik diajak ngobrol, menarik, pintar dan sebagainya. “Aku juga dapat nomor telponnya. Feelingku sih dia yang bakal jadi juara,” katanya. “Ya kalau emang dia menang, jadiin aja dia boks (rubrik profil yang biasanya berseri),” kataku menimpali. Suasana di kantor itu lantas menjadi ramai. Beberapa bersahut-sahutan. “Ayo Fer, masa kalah sama Jakfar,” kata Danang, layouter, mengejek Feri, fotografer yang masih jomblo. “Kalau orangnya enak, mau gak ya diajak ngobrol. Gue pengen punya kenalan yang pintar ngomong dan nulis bahasa Inggris,” kataku menimpali. “Coba aja Mas. Orangnya baik kok. Ramah,” sambung Jakfar.

Malam itu tak ada yang tertinggal tentang kamu di benakku, Mit. Semuanya seperti hari-hari biasa. Deadline, berita, foto, pulang malam, lelah, ngantuk and so on. Beberapa hari kemudian aku mulai bertugas di Serang, Banten. Berita tentang hasil lomba itu muncul dilanjutkan profil sebanyak dua seri. Aku mulai penasaran setelah membaca profilmu, Mit. Aku ingin mengenal lebih dekat. Tentu berharap mendapat manfaat memperbaiki bahasa Inggrisku yang belepotan.

Iseng-iseng aku juga ketik namamu di Google dan mendapat beberapa alamat situs tentang dirimu. Aku makin penasaran dengan foto yang kau pampang. Isinya membuatku makin bersemangat. Engkau begitu hebat di sana. Kau terlihat sangat sempurna. Benarkah begitu? Aku mulai berani mengirim SMS, menelpon dan akhirnya kita janji bertemu suatu hari. Tujuannya satu : menyerahkan koran berisi tulisan-tulisan Jakfar tentang engkau. Kita janji bertemu di Wisma Relasi. Aku benar-benar girang, Mit. “I have to look perfect,” gumanku waktu itu. Tapi SMS-mu berikutnya membuatku sedikit heran. “Waktu gue engga banyak. Gue engga bisa lama-lama,” katamu. It’s ok. Aku pun meluncur, memakai motor pinjaman seorang teman. Maklum motorku saat itu kutinggal di Serang. Sempat ada perasaan tak enak karena membuatmu harus menunggu di bawah terik matahari. Ah..benar, kau sudah ada di sana.  Tapi kok ada seorang ibu berjilbab di sana. Engkau berdiri dengan tangan terlipat, wajah sedikit pucat, tangan dilipat, seperti menahankesal meski tetap tampil menarik.

Aku masih ingat Mit, engkau membawa tas agak besar seperti hendak belanja. Rambutmu dibiarkan tergerai. Beberapa helai yang jatuh di dahi mengingatkanku pada poni milik Nirina Zubir. Dengan kaos warna kuning dan celana jins dipadu sandal, engkau terlihat santai namun tetap cantik. Apalagi sapuan tipis perona pipi itu mengingatkanku pada cewek-cewek SPG di pameran-pameran di JCC. Cuma aku agak heran, kok wajah aslimu beda dengan foto yang kau pampang di internet ya? What’s wrong? Mataku yang sakit atau engkau barusan operasi plastik? Belakangan aku tahu dari engkau, teman-temanmu pun memberi komentar serupa. Mereka bila foto itu menipu.

Setelah berbelok melewati lampu merah, akhirnya aku mendekat. Menyapa. Bersalaman dan menyerahkan bungkusan koran yang kau pesan. Wajahmu cerah. Kau langsung membaca isi koran itu. Semuanya itu terjadi sembari kita berdiri di trotoar pinggir jalan. Tak ada tempat duduk, tak ada air minum. Dari wanita berjilbab di sampingmu, aku tahu kau tinggal di belakang Green Garden, Kedoya. “Cukup dekat,” kataku dalam hati. Tiba-tiba semuanya jadi kikuk. Kau memrotes isi tulisan yang memuat profilmu. “Lho kok kayak gini. Masa bapak saya ditulis almarhum, dia kan masih hidup,” katamu agak cemberut. Aku jadi nervous, gugup. Kau lagi-lagi menemukan kesalahan lain di sana. Soal umur lah, soal prestasi lah dan juga soal selalu didampingi sang ibu bila mengikuti lomba. Semuanya engkau protes. “Wartawan kan engga boleh salah menulis berita. Iya kan ma,” katamu lagi sambil melihat wajah mamamu sekilas.

Aduh…Mit…aku engga enak ati. Aku tahu banget ucapanmu tadi benar. Aku hapal di luar kepala. But it was out of my control. Aku bahkan malu mengakui kalau aku dan Jakfar satu kantor. Emang sih kita satu perusahaan, tapi kan aku sekang tugas di Banten. Aku merasa seperti cacing kepanasan saat itu. Rasanya ingin cepat-cepat pamit. Untungnya kau dan mamamu memang tak bisa lama-lama. Ya…aku lega. Bandelnya, aku masih pede mengatakan akan menelponmu di lain waktu dan meminta kau mengedit tulisanku dalam bahasa Inggris. Sesudah itu aku pamit.

Rupanya masalah belum tuntas. Aku kesulitan menghidupan sepeda motor CB100 yang tadi kubawa. Tambah malu nih, pikirku. Untung kau baik Mit. Kau hampiri aku dan dengan sopan bertanya, ada masalah sama motornya?”. Aku jawab singkat. “Gak papa kok”. Begitu motor hidup, aku ucapkan salam dan pergi. Kendati hanya bertemu beberapa menit, aku tak bisa melupakan pengalaman itu, Mit. Pulangnya aku langsung telepon Jakfar dan menyuruhnya meminta maaf. “Far, elo bikin gue malu. Pokoknya elo harus minta maaf,” kataku dengan nada keras ke Jakfar. Dari seberang telepon, aku dengan suara Jakfar berkata…iya mas…iya mas. Bahkan setiap bertemu Jakfar, aku selalu menanyakan hal itu dan selalu dijawab iya..mas…. Beberapa teman yang aku bagi kisah ini ikut tertawa. Sebagian menyalahkan Jakfar yang tidak akurat saat mencatat data dari sumber berita. Sayang, hingga hari ini Jakfar tak pernah menyampaikan maaf itu.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s