Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Glodok 2 Oktober 9, 2007

Filed under: Memori — Mr. Acim @ 5:40 am

Glodok pula yang sedikit membuka mataku tentang diri engkau, Mit. Lucu, aneh, heran dan tidak percaya. Itulah yang ada di benakku saat sambil berjalan menyusuri lapak-lapak engkau mengungkap sebuah rahasia yang mungkin kau tutup-tutupi di depan temanmu. Kita tengah mencari VCD The Simpson, Tin-Tin dan beberapa judul lain saat tiba-tiba kau mengajukan satu pertanyaan. “Elo pernah nonton VCD gituan?”. Aku tidak terkejut dengan pertanyaan itu dan hanya tersenyum mendengarnya. Maklum di jaman sekarang, apalagi di Jakarta, gampang sekali mendapatkan VCD demikian. Apalagi dulu waktu masih berstatus wartawan, aku kerap menyaksikan tumpukan VCD begituan hasil razia polisi di Polsek, Polres, Poltabes atau Polda. Kadang-kadang malah polisi-polisi itu dengan santai menawarkan pada para reporter untuk membawa pulang sebagian barang razia itu sebelum dimusnahkan.Toh bukan berarti aku suka menontonnya.

“Susah ya jadi cowok. Kalau bilang pernah entar dibilang demen. Tapi kalau bilang belum, dibilang munafik,” kata engkau tanpa jeda, masih sambil mencari-cari beberapa judul film kartun. Di sekeliling kita saat itu, berjejer aneka judul VCD. Termasuk yang porno.
Aku lantas membalas pendek. “Ya pernah lah,” kataku. Malah aku cerita tentang seorang teman di tempat kerja yang walaupun bertampang guru agama ternyata secara diam-diam sering menonton VCD porno di kamarnya. Aku juga bilang pernah punya cerita seru dengan seorang teman yang kini menjadi produser TV swasta saat berburu VCD di Glodok. Saat memasuki kawasan lapak, kami dicegat beberapa lelaki berciri-ciri Indonesia Timur yang menawarkan dagangannya. Semula kami ragu, tapi karena didesak, temanku itu malah tergiur. Ia menawar beberapa barang yang semua sampulnya bergambar amat vulgar. Ia akhirnya merogoh Rp 50 ribu demi beberapa keping VCD. Lucunya setelah sampai di rumah dan dicoba, teman tadi marah-marah dan ditertawakan rekan-rekannya. Gara-garanya tak satupun isi film yang diharapkan sesuai dengan gambar sampulnya. “Mending kalau film kartun. Ini lagu-lagu boyband kagak jelas. Sialan,” kata teman itu mengumpat.

“Gue belum pernah liat loh. Emang isinya kayak gituan semua ya,” kamu terus bertanya. Aku tak banyak komentar. Malu dan tentu saja jaim. Tanpa diminta engkau melanjutkan ceritamu. “Gue kan anak yang dikekang orang tua. Waktu cuma boleh nonton DVD hari Sabtu dan Minggu dari jam 12 sampai 9 malam. Lo pasti heran sama orang tua gue, kan. Tapi emang begitu,” katamu. Yang terakhir ini membuatku terkejut. Masa sih?

Terus terang aku kaget, Mit. Aku lantas mencoba menghubungkan sikap-sikap “over protektif” yang kau munculkan setiap kali kita bertemu. Aku mulai mengerti, Mit. Engkau butuh kebebasan lebih besar. Engkau ingin lepas dari kekangan itu. Tapi aku juga paham sikap ortumu. Mereka khawatir anaknya yang cantik terperosok pergaulan bebas. Mereka takut masa depanmu hancur hanya gara-gara tergoda nafsu rendahan. “Tapi gue engga mau bebas banget. Gue masih bisa jaga diri,” katamu. Kali ini aku tersenyum. Mengangguk-angguk. Dari sorot matamu aku tahu kau jujur. Aku percaya. Percaya.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s