Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Lapak Glodok Oktober 7, 2007

Filed under: Memori — Mr. Acim @ 5:56 am

Glodok. Saya tak akan pernah lupa nama itu. Di tempat inilah saya hapal di mana mencari barang elektronik murah dan mencari aneka VCD/DVD bajakan. Saya paling suka film-film peperangan, horor, film-film pemenang festival dan dokumenter. Nama Glodok menambah warna lain dalam khasanah pengalaman hidup. Sebuah tabir yang beberapa bulan sebelumnya tertutup rapat, mulai terbuka, justru bermula di kawasan ini.

“Lo sama kayak gue. Seleranya lapak,” ucapmu di ujung telepon. Hari Sabtu itu, kita sepakat ke Glodok, kawasan elektronik ternama di Jakarta Barat. Berkali-kali aku pergi ke Glodok, tapi baru kali ini ditemani wanita. “Gue cari film Tintin,” katamu kala itu. Memang kita mencari film Tin Tin. Kau sempat pula melihat-lihat VCD Jewel, penyanyi Amerika yang kau suka. Soal Jewel ini aku tahu menjadi salah satu penyanyi favoritmu dari website yang kau tulis. Sebenarnya tak banyak lagu Jewel yang aku tahu, kecuali hit pertamanya berjudul Foolish Game. Aku ingat Mit, waktu kita istirahat sehabis lelah berburu DVD, aku sodorkan buku Jewel yang kudapat secara tak sengaja waktu liputan peristiwa di Bintaro.

“Wah, lo dapat dari mana. Gue dulu nyari sampe ke Amerika,” ucapmu dengan muka berseri-seri. Aku tahu Mit, kamu sangat suka dengan syair-syair dan lagu-lagu Jewel. Lagu Goodbye Alice in the Wonderland pasti kamu hapal di luar kepala. Karena itu pula aku langsung ingat kamu dan membelinya waktu tak sengaja melihatnya di kios buku bekas di Bintaro.

“Ini buat lo, biar ingat ama gue. Bentar lagi gue balik ke Semarang dan ga tau kapan balik ke Jakarta lagi,” kataku.  Aku menolak waktu kau berniat mengganti buku itu dengan uang. “Setidaknya gue ganti ongkos lo ke Bintaro,” kau beralasan. Sikapku tak berubah. Aku tulus memberi buku itu. Buku buat orang yang aku sayang. Orang yang senyum dan cemberutnya selalu muncul dalam bayang-bayang, dalam mimpi-mimpi, dalam bentuk imej digital di folder komputerku. Aku tak mau menerima uangmu, Mit, karena kuanggap itu menghilangkan nilai dari ketulusanku.

Banyak kata yang kita tukarkan di sana. Aku masih ingat, Mit, di bangku sebuah warung, kita saling mengamati garis telapak tangan masing-masing. Kita mengamati palmistry. “Gue diramal engga akan menikah seumur hidup. Soalnya garis tangan gw ujungnya engga nyambung,” katamu. Aku kaget. Ah…apa aku juga punya nasib ramalan yang sama? Garis tapak tanganku juga tidak bertautan pada ujung-ujungnya. Tapi aku engga pernah percaya ramalan. Aku lantas berceloteh tentang kisah-kisahku. Tentang pengalaman-pengalaman. Tentang pacar-pacarku dahulu. Juga tentang kegagalan-kegagalan. Aku ingin terbuka, Mit. Mengajakmu saling berterus terang. Menghilangkan prasangka. Biar tak ada lagi curiga.

D i Glodok itu, engkau tahu siapa aku. Sayang, hanya sedikit yang aku tahu tentang kamu.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s