Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Kampung dan Pesan Oktober 7, 2007

Filed under: Bete — Mr. Acim @ 5:53 am

“Kapan lo ke Jkt? Gw udah nabung buat makan-makan lagi”. Jarak menjadi kendala komunikasi kita. Setengah tahun ke belakang, melihatmu adalah keniscayaan. Meski jauh ratusan kilometer berpagar jarak, ada emosi yang kau dekatkan. Seperti pesan yang kirimkan itu. Aku hanya bisa berkhayal, masih ada kesempatan dan waktu untuk menjawab ajakanmu. Makan-makan, ya, itulah yang kau tawarkan. Kau pernah bilang ingin mencoba beraneka makanan dan jajanan yang aneh-aneh. Kita pernah mencoba menu vegetarian, bakso titoti, burger blenger, dan sebuah makanan Aceh. Dan yang pasti, aku tak pernah keberatan menemanimu, kapan saja, di mana saja.

Tapi itu dulu, saat rekeningku masih bisa dikucur dari gaji bulanan. Kini, ibarat sumur, ia kering. Tak ada mata air yang membuncah membasahi dindingnya. Aku semula menduga, cukup tiga bulan hidup dalam ketakmenentuan. Hidup dalam suasana pas-pasan. Hidup tanpa dukungan perusahaan. Pilihan hati untuk mendapatkan kemandirian. Tawaranmu pun hanya menjadi basa-basi karena tak mudah aku menjanjikan kapan bisa datang. “Gw bokek, Mit. Bisnis gw engga bagus,” begitu aku beralasan.

Namun bayang-bayang keceriaan yang akan kudapatkan bila bersamamu, tak bisa aku singkirkan. Aku pun memaksa diri datang. Menempuh jarak membelah kesulitan. Tentu dengan status pengangguran karena belum tepat dikatakan orang dermawan apalagi jutawan. Harapanku mendapatkan sedikit asa dari kerlip bintang. Mengobati kerontang hati akibat kenestapaan. Namun asa itu jadi kenyataan. Perjalanan dan waktu yang kuhabiskan, berakhir tak begitu menyenangkan. Engkau tak bisa diganggu karena sedang menikmati hari-hari menyenangkan. Menjadi orang penting pembela negeri. Menjadi duta bagi ibu pertiwi.

“Gw ada waktu setelah tanggal 22. Tiap hari gw pulang malam sampai jam 2 soalnya harus latihan untuk persiapan pentas seni,” begitu engkau beralasan. Aku mahfum. Itu adalah final dari beberapa ajakan yang tak bisa engkau iyakan. Tak ada sedetik yang mau kau sisihkan.

Saat itu, waktu tak berlembut hati kepadaku. Dua minggu menunggu hanya berharap air hujan di padang gersang. Bertemu denganmu adalah angan-angan. Aku pun pulang. Keinginanku untuk melihatmu dalam kostum indah di atas panggung pertunjukkan, tak pernah kesampaian. Aku mulai yakin, ada pijakan kaki yang hilang. Ada sandaran hati yang roboh. Ada pagar maya yang melintang.

Segumpal tanya masih menggelayut. Tentang nama kampung yang tak pernah kau sebut. Tentang balasan pesan yang tak kunjung datang. Hingga dua hari kemudian, Engkau mengajakku berbincang di ujung telepon genggam. Katamu, pesanku sudah kau jawab. Lagi-lagi kau bertanya kapan aku ke Jakarta. Kali ini aku menjawab, bulan depan. Meski aku tahu ada kecambuk perasaan di dadamu. Tak ada bantahan apalagi anggukan. Karena tak ada bukti kalau aku pernah mendapat pesan.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s