Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Dian Sastro Oktober 7, 2007

Filed under: Memori — Mr. Acim @ 5:56 am

“Kapan ada waktu lagi, kita hunting foto yuk,” ajakku. Kau tak segera menjawab. Belum ada waktu, katamu kala itu. Kesibukan adalah kata yang kerap kau ucapkan. “Entar kalau udah ujian skripsi. Gue pengen lulus dulu,” jawabmu. Kita masih duduk di atas bangku bus kota 213 Rawamangun-Grogol lewat Sudirman. Wajahmu agak kusut. Kulitmu berkeringat. Kau agak kikuk kala kutanyakan tentang harga kamera digital yang kau punya. Kita memang sedang mengobrol tentang fotografi kala itu. “O…gitu ya. Gw kira kalau moto orang kayak di majalah atau koran itu harus minta ijin orangnya. Pantesan bisa bagus ya hasilnya,” katamu. Entah siapa yang menyuruh, aku seperti jadi dosen yang tiba-tiba lancar menjelaskan istilah fotografi dan teknik pengambilan gambar yang baik.

“Kalau kita minta ijin dulu, entar ekspresi asli orangnya engga kelihatan. Orangnya malah jadi nampang,” jelasku. Hehehe, aneh, ngapain juga aku mencoba ngasih penjelasan kalau engkau berkali-kali bilang tidak paham. “Gw engga bisa ngebayangin. Gw masih bingung”.

Ya, aku kira engkau memang kelelahan. Seharian itu, kita menghabiskan waktu menjelajah lapak-lapak buku di Kwitang, menyusuri rak-rak di Toko Gunung Agung, dan nongkrong sambil makan mie ayam di TIM. Belum lagi udara panas yang menyengat bercampur dengan asap knalpot yang bertebaran memanggang. Aku tahu kau kepanasan. Tapi seperti tak tahu diri, aku justru ke-pede-an. Aku seperti mendapat tempat untuk selalu mengambil inisiatif pembicaraan. Aku mengeluh. Tentang kepedihan-kepedihan. Tentang kekecewaan-kekecewaan. Tentang hal-hal menyakitkan selama menjadi wartawan. Aku berceramah tentang idealisme, tentang harga diri dan tentang menjaga hati nurani.

“Gue tahu, gue pernah jadi korban (orang yang tidak profesional nulis berita),” katamu sembari tersenyum. Aku melongo sejenak. Oh…rupanya engkau mengingatkanku tentang pengamalam menjadi objek berita dari koran yang tidak becus mendidik wartawannya. Terus terang, aku malu saat itu. Aku memilih menjadi orang lain yang seolah-olah tak terkait dengan perusahaan media tersebut. Padahal koran yang kau sindir adalah yang mengucuri rupiah ke rekeningku tiap bulan. Aku malu.

Di atas bus kota, obrolan kita lanjutkan. Tak banyak yang bisa kudapatkan tentang sosok makhluk cantik yang misterius di sampingku. Aku hanya bangga dan merasa berbunga-bunga, bisa jalan-jalan ditemani gadis cantik bersuara merdu bersahaja. Aku mencoba lagi mendapat jawaban tentang kesempatan bertemu dan berjalan-jalan. “Kamera gue kena virus,” kali ini kau ganti alasan. Aku tawarkan diri untuk mengatasinya. “Apa mau gw bawa dulu kameranya, entar gw balikin ke lo,”. Kau tak menjawab. “Emang kena virus apa?” tanyaku lagi. “Engga tau, tapi kalau di komputer muncul fotonya Dian Sastro,” katamu. “Apa…ada virus Dian Sastro?,” kataku heran. Kali ini matamu menyapu mukaku seperti menyelidik apakah aku benar-benar kaget atau pura-pura cari perhatian. “Hehehe ada aja orang iseng bikin virus gituan,” kataku. “Emang bener,” kini kau mencoba meyakinkan.

Kita saling pandang. Saling tersenyum dan saling tertawa. Aku bahagia. Itu senyum paling indah dan tawa paling lepas sejak kita bertemu tadi pagi. Aku pamitan karena harus turun lebih dahulu di perempatan Slipi. Kali ini dengan membawa banyak kenangan.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s