Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Tentang Testimoni itu Oktober 6, 2007

Filed under: Rindu — Mr. Acim @ 6:38 am

Aku cukup tersanjung waktu engkau masih ingat saat-saat awal perkenalan kita. Kau masih bisa menyebut warna baju dan aksesori yang kau pakai. “Gue pakai gelang rantai,” ucapmu saat kita melaju di atas roda dua, tempo hari. Rupanya momen itu tidak membuatmu lupa. Aku pun tak bisa lupa. Momen itu terekam jelas dalam testimoni yang aku buat untukmu. Waktu itu, engkau mengajakku untuk bertukar testimoni yang akan akan dimuat di sebuat situs jaringan sosial di dunia maya. Aku sempat menganggapnya basa-basi belaka. Malah aku balik menantang ingin testimoni yang jujur atau yang kamuflase? Engkau juga sempat bercanda kalau jujur pasti akan begini, begitu dan lain-lain.

Ya…itu sudah terjadi setahun lalu. Engkau mengucapkannya saat kita berbuka puasa di pinggir Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, bulan Ramadan tahun lalu. Toh meski engkau lebih kerap menghadap ke arah lain saat kita berbincang, aku yakin suatu saat engkau akan terbiasa dengan kehadiranku.

Aku ingat Mit, wajahmu masih agak bengkak waktu itu. Engkau seperti orang bangun tidur. Toh walau begitu, engkau tetaplah wanita ayu. Matamu yang sembab membuatku yakin, belum cukup lama engkau berpisah dengan batal kesayangan di tempat tidurmu. Sore itu masih seperti kemarin, Mit. Masih begitu segar.

Aku tak butuh waktu lama untuk menjawab tantanganmu, Mit. Tak sampai satu minggu, aku ingin menuliskan testimoni itu. Dan yang sungguh membuatku heran, ternyata testimoni itu cukup panjang. Barangkali paling panjang di antara testimoni yang pernah dikirimkan oleh teman-temanmu. Jam 23.00 menjelang tengah malam, aku kirimkan testimoni itu ke emailmu. Engkau pun langsung membukanya dan memberi komentar. “Testimoni elo bagus,” tulismu di pesan pendek ponselku.

Setengah tahun kemudian, tak pernah ada testimoni balasan yang kau janjikan itu. Engkau beralasan, aku tak pantas mendapat testimoni apa adanya yang tidak serius. Aku mengerti. Tetapi karena tak jua kau sempatkan diru untuk menuliskannya, aku menyerah. Aku ikhlaskan untuk tak mengetahui testimoni itu. Aku bebaskan engkau dari kewajiban menjawab testimoniku.

Di atas metromini tempo hari, hampir setahun setelah testimoni itu, engkau berujar, ”Gue masih punya utang testimoni ama loe….”. Sekali lagi aku tersanjung. Engkau masih ingat hal yang sudah aku lupakan itu. Wajahmu menatap kaca metromini malam itu. Seakan ada beban yang engkau simpan. ”Hei…gue kan udah ngikhlasin…,”. Lagi-lagi engkau tertunduk. Kali ini diam membisu.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s