Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Sewot Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Menerung — Mr. Acim @ 3:27 am

Aku tidak pernah menyangka engkau begitu sewot dengan pertanyaan-pertanyaanku. Ya…Minggu pagi itu aku kirimkan sebuah SMS tentang kegiatanmu. Kau jawab sudah berada di Hotel Atlet Century Park mendengarkan aneka ceramah. Kita lantas berbalas pesan. Tak ada hal aneh sampai aku rasakan ada emosi memendam dalam pesan-pesanmu. Engkau seperti tak terima waktu kutanya misi khusus yang kau emban di sana. Ah..kita malah berdebat tentang siapa yang keliru menafsirkan kata-kata. Aku memilih menahan diri. Mencoba mencari celah mengurai emosi yang terburai dari tiap huruf dalam pesan-pesanmu. Apalagi waktu kau mendebat tentang misi mencari beasiswa yang kusinggung.

”Mencari beasiswa tidak mungkin menjadi misi Pemprov DKI,” kira-kira begitu jawabmu waktu itu.

”Sekarang ini banyak lembaga yang lebih suka memberikan beasiswa tanpa melalui birokrasi. Mereka lebih suka langsung ke penerima,” balasku.

Engkau menjawab lagi. Kali ini suhumu lebih tinggi dari sebelumnya.

”Kalaupun diterima langsung, waktu mau berangkat tetap saja lewat birokrasi,” demikian pesan singkatmu. Kali ini engkau keluar dari rel rasionalmu, Mit. Aku memilih berhenti. Tak ada guna berdebat bila esensi pembicaraan kita melenceng dari topik.

Hari itu aku masih di atas bus AKDP menuju Semarang dari Banjarnegara. Aku tak pernah mengira obrolan kita menjadi panas membara. Beberapa kali aku tanyakan, apakah engkau sewot dengan pertanyaan-pertanyaanku. Seperti biasa, tak ada jawaban pasti. Diam adalah senjatamu. Hari itu aku tahu, rasio yang pernah kau rujuk sebagai mekanisme pertahanan diri – seperti yang pernah kau tulis dalam blog – tak lagi kau andalkan. Kau sedang berubah, Mit.

 

Hutang itu Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Menerung — Mr. Acim @ 3:26 am

Aku pernah terlilit hutang beberapa belas juta tempo hari. Meskipun kini semuanya sudah lunas, merasakan terjepit hutang adalah pengalaman tak menyenangkan. Itu pula mengapa aku lebih suka mengikhlaskan sebuah hutang daripada menagihnya sekiranya pengutang tak memiliki kemampuan atau tak kuasa membayarnya.

Saat ini pun aku punya hutang kepadamu. Jumlahnya memang tak seberapa. Sekitar Rp 20 ribu. Engkau ingat kan sewaktu kita makan di kafe Jepang di Plaza Semanggi sebelum kau bertolak ke Australia? Jumlah itu adalah separuh dari harga makanan yang kita habiskan. Saat itu, tidak biasanya kita tak sepakat siapa yang akan membayar biaya makan kita. Tak ada kesepakatan apakah aku yang mentraktir kamu, atau sebaliknya. Seperti itulah lazimnya kalau kita menghabiskan waktu makan berdua. Kau tahu, kita terlalu asyik mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari kegiatan yang bakal kau lakukan di Australia, di NTT, ngomongin Law of Attraction, hingga obrolan kita di atas bus kota. Bahkan hingga kita menghabiskan waktu belanja keperluanmu sebelum berangkat, kita tak lagi sempat membahasnya.

Aku ingin kau ingat itu Mit. Bila saatnya tiba nanti kau pulang ke tanah air, jangan kau tolak hutang yang aku bayarkan itu. Aku ingin kau terima. Barangkali kau tak menganggapnya begitu berharga, tapi bagiku ada perasaan bersalah bila tak memenuhi kewajiban ini. Hanya saja, bila sampai waktu nanti, hutang ini tak juga terbayarkan, jangan sungkan untuk mengingatkanku, Mit. Aku akan dengan senang hati menerima teguran darimu.

 

Ingat Engkau (2) Oktober 17, 2007

Diarsipkan di bawah: Rindu — Mr. Acim @ 5:30 am

Lebaran ini ada pelajaran berharga yang ku dapat. Dari obrolan keluarga,  aku mengerti satu hal tentang cara memperlakukan orang lain.

“Mestinya kamu berpikir bagaimana diri kita memperlakukan orang lain, bukan bagaimana orang lain memperlakukan kita,” kata kakak pertamamu, malam itu.

Kesadaranku tersentak. Aku seperti bangun dari tidur panjang. Benarkah selama ini aku lebih memperhatikan respon orang lain terdapat diriku? Benarkah?

Aku lantas ingat kamu Mit. Aku ingat ucapan presiden AS John F Kennedy. Dia bilang, jangan kau tanya apa yang sudah negara berikan kepadamu, tapi apa yang sudah kau perbuat untuk negaramu. Ya…ucapan ini mengiang-ngiang di telingaku.

Aku memang tidak banyak berbuat untuk engkau, Mit. Aku bukan orang yang sering menolongmu, memperhatikanmu atau menjadi tempat curhatmu. Aku cuma orang lain. Orang yang berada di luar lingkaran hidupmu. Aku bukan subjek, bukan pula objek. Aku cuma pelengkap penderita.

Jangan kau anggap sikapku ini sebagai tanda pesimisme. Aku cuma ingin suatu hari nanti kau ingat aku sebagai orang yang pernah sayang ke kamu. Orang yang pernah jatuh cinta dan menuliskan perasaannya lewat blog atau email. Orang yang barangkali menjengkelkan engkau dengan pesan-pesan SMS yang membanjiri ponselmu. Demikian pula dirimu Mit. Aku ingin suatu hari nanti, ada ingatan tentang engkau dalam otakku. Sayang hingga hari ini aku belum menemukan kata yang cocok untuk mewakili kesan itu. Kesan tentang dirimu.

 

Glodok 2 Oktober 9, 2007

Diarsipkan di bawah: Memori — Mr. Acim @ 5:40 am

Glodok pula yang sedikit membuka mataku tentang diri engkau, Mit. Lucu, aneh, heran dan tidak percaya. Itulah yang ada di benakku saat sambil berjalan menyusuri lapak-lapak engkau mengungkap sebuah rahasia yang mungkin kau tutup-tutupi di depan temanmu. Kita tengah mencari VCD The Simpson, Tin-Tin dan beberapa judul lain saat tiba-tiba kau mengajukan satu pertanyaan. “Elo pernah nonton VCD gituan?”. Aku tidak terkejut dengan pertanyaan itu dan hanya tersenyum mendengarnya. Maklum di jaman sekarang, apalagi di Jakarta, gampang sekali mendapatkan VCD demikian. Apalagi dulu waktu masih berstatus wartawan, aku kerap menyaksikan tumpukan VCD begituan hasil razia polisi di Polsek, Polres, Poltabes atau Polda. Kadang-kadang malah polisi-polisi itu dengan santai menawarkan pada para reporter untuk membawa pulang sebagian barang razia itu sebelum dimusnahkan.Toh bukan berarti aku suka menontonnya.

“Susah ya jadi cowok. Kalau bilang pernah entar dibilang demen. Tapi kalau bilang belum, dibilang munafik,” kata engkau tanpa jeda, masih sambil mencari-cari beberapa judul film kartun. Di sekeliling kita saat itu, berjejer aneka judul VCD. Termasuk yang porno.
Aku lantas membalas pendek. “Ya pernah lah,” kataku. Malah aku cerita tentang seorang teman di tempat kerja yang walaupun bertampang guru agama ternyata secara diam-diam sering menonton VCD porno di kamarnya. Aku juga bilang pernah punya cerita seru dengan seorang teman yang kini menjadi produser TV swasta saat berburu VCD di Glodok. Saat memasuki kawasan lapak, kami dicegat beberapa lelaki berciri-ciri Indonesia Timur yang menawarkan dagangannya. Semula kami ragu, tapi karena didesak, temanku itu malah tergiur. Ia menawar beberapa barang yang semua sampulnya bergambar amat vulgar. Ia akhirnya merogoh Rp 50 ribu demi beberapa keping VCD. Lucunya setelah sampai di rumah dan dicoba, teman tadi marah-marah dan ditertawakan rekan-rekannya. Gara-garanya tak satupun isi film yang diharapkan sesuai dengan gambar sampulnya. “Mending kalau film kartun. Ini lagu-lagu boyband kagak jelas. Sialan,” kata teman itu mengumpat.

“Gue belum pernah liat loh. Emang isinya kayak gituan semua ya,” kamu terus bertanya. Aku tak banyak komentar. Malu dan tentu saja jaim. Tanpa diminta engkau melanjutkan ceritamu. “Gue kan anak yang dikekang orang tua. Waktu cuma boleh nonton DVD hari Sabtu dan Minggu dari jam 12 sampai 9 malam. Lo pasti heran sama orang tua gue, kan. Tapi emang begitu,” katamu. Yang terakhir ini membuatku terkejut. Masa sih?

Terus terang aku kaget, Mit. Aku lantas mencoba menghubungkan sikap-sikap “over protektif” yang kau munculkan setiap kali kita bertemu. Aku mulai mengerti, Mit. Engkau butuh kebebasan lebih besar. Engkau ingin lepas dari kekangan itu. Tapi aku juga paham sikap ortumu. Mereka khawatir anaknya yang cantik terperosok pergaulan bebas. Mereka takut masa depanmu hancur hanya gara-gara tergoda nafsu rendahan. “Tapi gue engga mau bebas banget. Gue masih bisa jaga diri,” katamu. Kali ini aku tersenyum. Mengangguk-angguk. Dari sorot matamu aku tahu kau jujur. Aku percaya. Percaya.

 

Salah Tulis Oktober 9, 2007

Diarsipkan di bawah: Memori, Rindu — Mr. Acim @ 5:38 am

Kalau ada yang menyenangkan untuk kenangan, aku juga punya pengalaman tak mengenakan. Pertama kali bertemu engkau adalah malapetaka buatku. Aku semula membayangkan pertemuan yang manis, penuh obrolan mengasyikan atau canda tawa menyegarkan. Hehehe…sebetulnya malu mengatakannya, tapi inilah kenyataan. Tulisan di koranku adalah pemicu keisenganku. Jakfar Shodik, wartawan di koran tempatku bekerja, menyodorkan foto dan tulisan tentang kegiatan lomba news presenter di Bintaro, suatu hari di bulan Juni 2006. Aku tak begitu tertarik.

“Ah…berita biasa banget,” pikirku waktu itu di kantor kami di Biro Tangerang. Berry, redakturku, tiba-tiba berguman. “Wah…cakep”. Saat itu aku baru ngeh ada yang menarik perhatian mereka. Ternyata foto kamu di sana berikut profil singkat yang ditulis di bawah rubrik Etalase. Jakfar, anak Madura yang lugu itu, rupanya terprovokasi dan tampak bangga karena mendapat pengisi rubrik yang cantik. Ia juga nerocos kalau pengisi rubrik Etalase kali ini orangnya asyik diajak ngobrol, menarik, pintar dan sebagainya. “Aku juga dapat nomor telponnya. Feelingku sih dia yang bakal jadi juara,” katanya. “Ya kalau emang dia menang, jadiin aja dia boks (rubrik profil yang biasanya berseri),” kataku menimpali. Suasana di kantor itu lantas menjadi ramai. Beberapa bersahut-sahutan. “Ayo Fer, masa kalah sama Jakfar,” kata Danang, layouter, mengejek Feri, fotografer yang masih jomblo. “Kalau orangnya enak, mau gak ya diajak ngobrol. Gue pengen punya kenalan yang pintar ngomong dan nulis bahasa Inggris,” kataku menimpali. “Coba aja Mas. Orangnya baik kok. Ramah,” sambung Jakfar.

Malam itu tak ada yang tertinggal tentang kamu di benakku, Mit. Semuanya seperti hari-hari biasa. Deadline, berita, foto, pulang malam, lelah, ngantuk and so on. Beberapa hari kemudian aku mulai bertugas di Serang, Banten. Berita tentang hasil lomba itu muncul dilanjutkan profil sebanyak dua seri. Aku mulai penasaran setelah membaca profilmu, Mit. Aku ingin mengenal lebih dekat. Tentu berharap mendapat manfaat memperbaiki bahasa Inggrisku yang belepotan.

Iseng-iseng aku juga ketik namamu di Google dan mendapat beberapa alamat situs tentang dirimu. Aku makin penasaran dengan foto yang kau pampang. Isinya membuatku makin bersemangat. Engkau begitu hebat di sana. Kau terlihat sangat sempurna. Benarkah begitu? Aku mulai berani mengirim SMS, menelpon dan akhirnya kita janji bertemu suatu hari. Tujuannya satu : menyerahkan koran berisi tulisan-tulisan Jakfar tentang engkau. Kita janji bertemu di Wisma Relasi. Aku benar-benar girang, Mit. “I have to look perfect,” gumanku waktu itu. Tapi SMS-mu berikutnya membuatku sedikit heran. “Waktu gue engga banyak. Gue engga bisa lama-lama,” katamu. It’s ok. Aku pun meluncur, memakai motor pinjaman seorang teman. Maklum motorku saat itu kutinggal di Serang. Sempat ada perasaan tak enak karena membuatmu harus menunggu di bawah terik matahari. Ah..benar, kau sudah ada di sana.  Tapi kok ada seorang ibu berjilbab di sana. Engkau berdiri dengan tangan terlipat, wajah sedikit pucat, tangan dilipat, seperti menahankesal meski tetap tampil menarik.

Aku masih ingat Mit, engkau membawa tas agak besar seperti hendak belanja. Rambutmu dibiarkan tergerai. Beberapa helai yang jatuh di dahi mengingatkanku pada poni milik Nirina Zubir. Dengan kaos warna kuning dan celana jins dipadu sandal, engkau terlihat santai namun tetap cantik. Apalagi sapuan tipis perona pipi itu mengingatkanku pada cewek-cewek SPG di pameran-pameran di JCC. Cuma aku agak heran, kok wajah aslimu beda dengan foto yang kau pampang di internet ya? What’s wrong? Mataku yang sakit atau engkau barusan operasi plastik? Belakangan aku tahu dari engkau, teman-temanmu pun memberi komentar serupa. Mereka bila foto itu menipu.

Setelah berbelok melewati lampu merah, akhirnya aku mendekat. Menyapa. Bersalaman dan menyerahkan bungkusan koran yang kau pesan. Wajahmu cerah. Kau langsung membaca isi koran itu. Semuanya itu terjadi sembari kita berdiri di trotoar pinggir jalan. Tak ada tempat duduk, tak ada air minum. Dari wanita berjilbab di sampingmu, aku tahu kau tinggal di belakang Green Garden, Kedoya. “Cukup dekat,” kataku dalam hati. Tiba-tiba semuanya jadi kikuk. Kau memrotes isi tulisan yang memuat profilmu. “Lho kok kayak gini. Masa bapak saya ditulis almarhum, dia kan masih hidup,” katamu agak cemberut. Aku jadi nervous, gugup. Kau lagi-lagi menemukan kesalahan lain di sana. Soal umur lah, soal prestasi lah dan juga soal selalu didampingi sang ibu bila mengikuti lomba. Semuanya engkau protes. “Wartawan kan engga boleh salah menulis berita. Iya kan ma,” katamu lagi sambil melihat wajah mamamu sekilas.

Aduh…Mit…aku engga enak ati. Aku tahu banget ucapanmu tadi benar. Aku hapal di luar kepala. But it was out of my control. Aku bahkan malu mengakui kalau aku dan Jakfar satu kantor. Emang sih kita satu perusahaan, tapi kan aku sekang tugas di Banten. Aku merasa seperti cacing kepanasan saat itu. Rasanya ingin cepat-cepat pamit. Untungnya kau dan mamamu memang tak bisa lama-lama. Ya…aku lega. Bandelnya, aku masih pede mengatakan akan menelponmu di lain waktu dan meminta kau mengedit tulisanku dalam bahasa Inggris. Sesudah itu aku pamit.

Rupanya masalah belum tuntas. Aku kesulitan menghidupan sepeda motor CB100 yang tadi kubawa. Tambah malu nih, pikirku. Untung kau baik Mit. Kau hampiri aku dan dengan sopan bertanya, ada masalah sama motornya?”. Aku jawab singkat. “Gak papa kok”. Begitu motor hidup, aku ucapkan salam dan pergi. Kendati hanya bertemu beberapa menit, aku tak bisa melupakan pengalaman itu, Mit. Pulangnya aku langsung telepon Jakfar dan menyuruhnya meminta maaf. “Far, elo bikin gue malu. Pokoknya elo harus minta maaf,” kataku dengan nada keras ke Jakfar. Dari seberang telepon, aku dengan suara Jakfar berkata…iya mas…iya mas. Bahkan setiap bertemu Jakfar, aku selalu menanyakan hal itu dan selalu dijawab iya..mas…. Beberapa teman yang aku bagi kisah ini ikut tertawa. Sebagian menyalahkan Jakfar yang tidak akurat saat mencatat data dari sumber berita. Sayang, hingga hari ini Jakfar tak pernah menyampaikan maaf itu.

 

Dian Sastro Oktober 7, 2007

Diarsipkan di bawah: Memori — Mr. Acim @ 5:56 am

“Kapan ada waktu lagi, kita hunting foto yuk,” ajakku. Kau tak segera menjawab. Belum ada waktu, katamu kala itu. Kesibukan adalah kata yang kerap kau ucapkan. “Entar kalau udah ujian skripsi. Gue pengen lulus dulu,” jawabmu. Kita masih duduk di atas bangku bus kota 213 Rawamangun-Grogol lewat Sudirman. Wajahmu agak kusut. Kulitmu berkeringat. Kau agak kikuk kala kutanyakan tentang harga kamera digital yang kau punya. Kita memang sedang mengobrol tentang fotografi kala itu. “O…gitu ya. Gw kira kalau moto orang kayak di majalah atau koran itu harus minta ijin orangnya. Pantesan bisa bagus ya hasilnya,” katamu. Entah siapa yang menyuruh, aku seperti jadi dosen yang tiba-tiba lancar menjelaskan istilah fotografi dan teknik pengambilan gambar yang baik.

“Kalau kita minta ijin dulu, entar ekspresi asli orangnya engga kelihatan. Orangnya malah jadi nampang,” jelasku. Hehehe, aneh, ngapain juga aku mencoba ngasih penjelasan kalau engkau berkali-kali bilang tidak paham. “Gw engga bisa ngebayangin. Gw masih bingung”.

Ya, aku kira engkau memang kelelahan. Seharian itu, kita menghabiskan waktu menjelajah lapak-lapak buku di Kwitang, menyusuri rak-rak di Toko Gunung Agung, dan nongkrong sambil makan mie ayam di TIM. Belum lagi udara panas yang menyengat bercampur dengan asap knalpot yang bertebaran memanggang. Aku tahu kau kepanasan. Tapi seperti tak tahu diri, aku justru ke-pede-an. Aku seperti mendapat tempat untuk selalu mengambil inisiatif pembicaraan. Aku mengeluh. Tentang kepedihan-kepedihan. Tentang kekecewaan-kekecewaan. Tentang hal-hal menyakitkan selama menjadi wartawan. Aku berceramah tentang idealisme, tentang harga diri dan tentang menjaga hati nurani.

“Gue tahu, gue pernah jadi korban (orang yang tidak profesional nulis berita),” katamu sembari tersenyum. Aku melongo sejenak. Oh…rupanya engkau mengingatkanku tentang pengamalam menjadi objek berita dari koran yang tidak becus mendidik wartawannya. Terus terang, aku malu saat itu. Aku memilih menjadi orang lain yang seolah-olah tak terkait dengan perusahaan media tersebut. Padahal koran yang kau sindir adalah yang mengucuri rupiah ke rekeningku tiap bulan. Aku malu.

Di atas bus kota, obrolan kita lanjutkan. Tak banyak yang bisa kudapatkan tentang sosok makhluk cantik yang misterius di sampingku. Aku hanya bangga dan merasa berbunga-bunga, bisa jalan-jalan ditemani gadis cantik bersuara merdu bersahaja. Aku mencoba lagi mendapat jawaban tentang kesempatan bertemu dan berjalan-jalan. “Kamera gue kena virus,” kali ini kau ganti alasan. Aku tawarkan diri untuk mengatasinya. “Apa mau gw bawa dulu kameranya, entar gw balikin ke lo,”. Kau tak menjawab. “Emang kena virus apa?” tanyaku lagi. “Engga tau, tapi kalau di komputer muncul fotonya Dian Sastro,” katamu. “Apa…ada virus Dian Sastro?,” kataku heran. Kali ini matamu menyapu mukaku seperti menyelidik apakah aku benar-benar kaget atau pura-pura cari perhatian. “Hehehe ada aja orang iseng bikin virus gituan,” kataku. “Emang bener,” kini kau mencoba meyakinkan.

Kita saling pandang. Saling tersenyum dan saling tertawa. Aku bahagia. Itu senyum paling indah dan tawa paling lepas sejak kita bertemu tadi pagi. Aku pamitan karena harus turun lebih dahulu di perempatan Slipi. Kali ini dengan membawa banyak kenangan.

 

Lapak Glodok Oktober 7, 2007

Diarsipkan di bawah: Memori — Mr. Acim @ 5:56 am

Glodok. Saya tak akan pernah lupa nama itu. Di tempat inilah saya hapal di mana mencari barang elektronik murah dan mencari aneka VCD/DVD bajakan. Saya paling suka film-film peperangan, horor, film-film pemenang festival dan dokumenter. Nama Glodok menambah warna lain dalam khasanah pengalaman hidup. Sebuah tabir yang beberapa bulan sebelumnya tertutup rapat, mulai terbuka, justru bermula di kawasan ini.

“Lo sama kayak gue. Seleranya lapak,” ucapmu di ujung telepon. Hari Sabtu itu, kita sepakat ke Glodok, kawasan elektronik ternama di Jakarta Barat. Berkali-kali aku pergi ke Glodok, tapi baru kali ini ditemani wanita. “Gue cari film Tintin,” katamu kala itu. Memang kita mencari film Tin Tin. Kau sempat pula melihat-lihat VCD Jewel, penyanyi Amerika yang kau suka. Soal Jewel ini aku tahu menjadi salah satu penyanyi favoritmu dari website yang kau tulis. Sebenarnya tak banyak lagu Jewel yang aku tahu, kecuali hit pertamanya berjudul Foolish Game. Aku ingat Mit, waktu kita istirahat sehabis lelah berburu DVD, aku sodorkan buku Jewel yang kudapat secara tak sengaja waktu liputan peristiwa di Bintaro.

“Wah, lo dapat dari mana. Gue dulu nyari sampe ke Amerika,” ucapmu dengan muka berseri-seri. Aku tahu Mit, kamu sangat suka dengan syair-syair dan lagu-lagu Jewel. Lagu Goodbye Alice in the Wonderland pasti kamu hapal di luar kepala. Karena itu pula aku langsung ingat kamu dan membelinya waktu tak sengaja melihatnya di kios buku bekas di Bintaro.

“Ini buat lo, biar ingat ama gue. Bentar lagi gue balik ke Semarang dan ga tau kapan balik ke Jakarta lagi,” kataku.  Aku menolak waktu kau berniat mengganti buku itu dengan uang. “Setidaknya gue ganti ongkos lo ke Bintaro,” kau beralasan. Sikapku tak berubah. Aku tulus memberi buku itu. Buku buat orang yang aku sayang. Orang yang senyum dan cemberutnya selalu muncul dalam bayang-bayang, dalam mimpi-mimpi, dalam bentuk imej digital di folder komputerku. Aku tak mau menerima uangmu, Mit, karena kuanggap itu menghilangkan nilai dari ketulusanku.

Banyak kata yang kita tukarkan di sana. Aku masih ingat, Mit, di bangku sebuah warung, kita saling mengamati garis telapak tangan masing-masing. Kita mengamati palmistry. “Gue diramal engga akan menikah seumur hidup. Soalnya garis tangan gw ujungnya engga nyambung,” katamu. Aku kaget. Ah…apa aku juga punya nasib ramalan yang sama? Garis tapak tanganku juga tidak bertautan pada ujung-ujungnya. Tapi aku engga pernah percaya ramalan. Aku lantas berceloteh tentang kisah-kisahku. Tentang pengalaman-pengalaman. Tentang pacar-pacarku dahulu. Juga tentang kegagalan-kegagalan. Aku ingin terbuka, Mit. Mengajakmu saling berterus terang. Menghilangkan prasangka. Biar tak ada lagi curiga.

D i Glodok itu, engkau tahu siapa aku. Sayang, hanya sedikit yang aku tahu tentang kamu.

 

 

 

Lepas dari Bayang-bayang Oktober 7, 2007

Diarsipkan di bawah: Doa — Mr. Acim @ 5:54 am

Jam setengah sepuluh malam, awal tahun ini, ponselku berdering. Aku tak pernah mengira bila pesan pendek itu datang darimu. Isinya datar, tapi menyiratkan kegamangan. “Gimana ya rasanya jauh dari rumah. Gw pengen lepas dari pengaruh orang rumah,” kira-kira begitu pesan yang kau kirim. Aku mencoba menelisik atas tanya yang kau kirim. Ada emosi di situ. Ada kekhawatiran. Ada pula kepercayaan. Ada keberanian untuk mengungkapkan isi hati dan perasaan. Atau kau cuma hendak menjawab kritik dalam testimoniku yang mengusik egomu?

“Ya senang, bebas, tapi kadang juga sedih,” balasku waktu itu. Engkau tak puas.

“Yang paling sedih kalau lagi sakit, karena ngerasa sendirian. Kadang juga sedih belum bisa bikin orang tua bahagia,” lanjutku.

Sapa balas pesan ini berlanjut. Namun engkau tak mau mengungkap sebenarnya hal apa yang mengganggu pikiranmu. “Ga ada apa-apa. Gw cuma ingin tahu aja rasanya lepas dari pengaruh orang tua,”katamu.

Beberapa hari lalu, aku berkunjung ke blog pribadimu. Blog yang lama tak kau rawat. Lama tak kau jamah. Ada ucapan pindah rumah di situ. Di bawah posting terakhir, aku terkejut. Ada nada bahagia dalam tulisanmu. Sejak lulus SMA gue ingin keluar dari rumah dan melanglang buana. Aku jadi teringat pesan pendekmu tempo hari. Engkau sudah menemukan jawaban itu. Engkau menemukan jalan menuju cita-citamu.

Hari-hari ini hingga lima bulan mendatang, adalah hari-harimu. Hari-hari engkau membuktikan kepada dunia tentang cita-cita dan ambisimu. Hari-hari saat kau bisa membalas episode-episode melelahkan nan panjang yang membosankan dari masa lalu. Hari-hari yang engkau idam-idamkan sejak SMA untuk berbicara kepada dunia. Untuk hidup dan berperan kepada bangsa. Untuk menutup lubang-lubang. Dan untuk lepas dari bayang-bayang.

 

Kampung dan Pesan Oktober 7, 2007

Diarsipkan di bawah: Bete — Mr. Acim @ 5:53 am

“Kapan lo ke Jkt? Gw udah nabung buat makan-makan lagi”. Jarak menjadi kendala komunikasi kita. Setengah tahun ke belakang, melihatmu adalah keniscayaan. Meski jauh ratusan kilometer berpagar jarak, ada emosi yang kau dekatkan. Seperti pesan yang kirimkan itu. Aku hanya bisa berkhayal, masih ada kesempatan dan waktu untuk menjawab ajakanmu. Makan-makan, ya, itulah yang kau tawarkan. Kau pernah bilang ingin mencoba beraneka makanan dan jajanan yang aneh-aneh. Kita pernah mencoba menu vegetarian, bakso titoti, burger blenger, dan sebuah makanan Aceh. Dan yang pasti, aku tak pernah keberatan menemanimu, kapan saja, di mana saja.

Tapi itu dulu, saat rekeningku masih bisa dikucur dari gaji bulanan. Kini, ibarat sumur, ia kering. Tak ada mata air yang membuncah membasahi dindingnya. Aku semula menduga, cukup tiga bulan hidup dalam ketakmenentuan. Hidup dalam suasana pas-pasan. Hidup tanpa dukungan perusahaan. Pilihan hati untuk mendapatkan kemandirian. Tawaranmu pun hanya menjadi basa-basi karena tak mudah aku menjanjikan kapan bisa datang. “Gw bokek, Mit. Bisnis gw engga bagus,” begitu aku beralasan.

Namun bayang-bayang keceriaan yang akan kudapatkan bila bersamamu, tak bisa aku singkirkan. Aku pun memaksa diri datang. Menempuh jarak membelah kesulitan. Tentu dengan status pengangguran karena belum tepat dikatakan orang dermawan apalagi jutawan. Harapanku mendapatkan sedikit asa dari kerlip bintang. Mengobati kerontang hati akibat kenestapaan. Namun asa itu jadi kenyataan. Perjalanan dan waktu yang kuhabiskan, berakhir tak begitu menyenangkan. Engkau tak bisa diganggu karena sedang menikmati hari-hari menyenangkan. Menjadi orang penting pembela negeri. Menjadi duta bagi ibu pertiwi.

“Gw ada waktu setelah tanggal 22. Tiap hari gw pulang malam sampai jam 2 soalnya harus latihan untuk persiapan pentas seni,” begitu engkau beralasan. Aku mahfum. Itu adalah final dari beberapa ajakan yang tak bisa engkau iyakan. Tak ada sedetik yang mau kau sisihkan.

Saat itu, waktu tak berlembut hati kepadaku. Dua minggu menunggu hanya berharap air hujan di padang gersang. Bertemu denganmu adalah angan-angan. Aku pun pulang. Keinginanku untuk melihatmu dalam kostum indah di atas panggung pertunjukkan, tak pernah kesampaian. Aku mulai yakin, ada pijakan kaki yang hilang. Ada sandaran hati yang roboh. Ada pagar maya yang melintang.

Segumpal tanya masih menggelayut. Tentang nama kampung yang tak pernah kau sebut. Tentang balasan pesan yang tak kunjung datang. Hingga dua hari kemudian, Engkau mengajakku berbincang di ujung telepon genggam. Katamu, pesanku sudah kau jawab. Lagi-lagi kau bertanya kapan aku ke Jakarta. Kali ini aku menjawab, bulan depan. Meski aku tahu ada kecambuk perasaan di dadamu. Tak ada bantahan apalagi anggukan. Karena tak ada bukti kalau aku pernah mendapat pesan.

 

Ungkapan Kangen Oktober 7, 2007

Diarsipkan di bawah: Rasa Itu, Rindu — Mr. Acim @ 5:51 am

Banyak yang sudah berubah sejak pertama kali kita bertemu. Tak ada lagi sungkan, tak ada lagi kikuk. Kita pun bisa lebih bebas curhat satu sama lain. Tetapi justru karena itulah bila ada yang kita sembunyikan satu sama lain, ada “keanehan-keanehan” yang bisa kita rasakan sebelumnya. Aku merasa ada yang hilang dari rentang waktu kita. Seperti ada jeda dalam garis lurus yang tiba-tiba terpotong.

Aku ingat pertama kali aku temukan gejolak di dalam hatiku. Aku harus mengumpulkan nyali untuk sekadar menulis satu kata dan mengirimkannya : kangen. Tak mudah untuk mengakuinya. Namun lebih tak mudah lagi untuk menutup-nutupinya. Agar tidak kikuk, aku memakai kata-kata lain. Gue inget lo terus, Mit.

Saat akhirnya aku berani menyebut kata kangen, reaksi penolakan itu muncul. “Berapa cewek yang udah elo kirimin kayak gini,” balasmu. Ah…ada yang tidak nyaman rupanya. Aku menyadari mengawali perasaan dengan berbohong akan menyakitkan di belakang hari. Bohong akan selalu membutuhkan bohong-bohong yang lain untuk menutupinya. Sekali berbohong–sampai belum terungkap–akan timbul bohong baru. Rasa sakit yang pernah dialami gara-gara dibohongi mendorongku untuk memilih berterus terang. “Ada beberapa, tapi itu dulu. Kalau sekarang cuma elo,” balasku. Engkau pun kembali menanggapi. “Good…..’”. Entah apa maksudnya. Aku hanya merasa ada pertanda baik dalam responmu.

Kini, aku tak sungkan lagi mengaku kangen. Aku tak lagi takut dicurigai mengungkapkan kegombalan kepadamu. Aku bisa merasakan, engkau pun mengalami hal yang sama. Kangen.