Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Ungkapan Kangen Oktober 7, 2007

Diarsipkan di bawah: Rasa Itu, Rindu — Mr. Acim @ 5:51 am

Banyak yang sudah berubah sejak pertama kali kita bertemu. Tak ada lagi sungkan, tak ada lagi kikuk. Kita pun bisa lebih bebas curhat satu sama lain. Tetapi justru karena itulah bila ada yang kita sembunyikan satu sama lain, ada “keanehan-keanehan” yang bisa kita rasakan sebelumnya. Aku merasa ada yang hilang dari rentang waktu kita. Seperti ada jeda dalam garis lurus yang tiba-tiba terpotong.

Aku ingat pertama kali aku temukan gejolak di dalam hatiku. Aku harus mengumpulkan nyali untuk sekadar menulis satu kata dan mengirimkannya : kangen. Tak mudah untuk mengakuinya. Namun lebih tak mudah lagi untuk menutup-nutupinya. Agar tidak kikuk, aku memakai kata-kata lain. Gue inget lo terus, Mit.

Saat akhirnya aku berani menyebut kata kangen, reaksi penolakan itu muncul. “Berapa cewek yang udah elo kirimin kayak gini,” balasmu. Ah…ada yang tidak nyaman rupanya. Aku menyadari mengawali perasaan dengan berbohong akan menyakitkan di belakang hari. Bohong akan selalu membutuhkan bohong-bohong yang lain untuk menutupinya. Sekali berbohong–sampai belum terungkap–akan timbul bohong baru. Rasa sakit yang pernah dialami gara-gara dibohongi mendorongku untuk memilih berterus terang. “Ada beberapa, tapi itu dulu. Kalau sekarang cuma elo,” balasku. Engkau pun kembali menanggapi. “Good…..’”. Entah apa maksudnya. Aku hanya merasa ada pertanda baik dalam responmu.

Kini, aku tak sungkan lagi mengaku kangen. Aku tak lagi takut dicurigai mengungkapkan kegombalan kepadamu. Aku bisa merasakan, engkau pun mengalami hal yang sama. Kangen.

 

Menghitung Kata Oktober 6, 2007

Diarsipkan di bawah: Rasa Itu — Mr. Acim @ 6:39 am

Kata-kata adalah makhluk ajaib. Mereka adalah benda abstrak yang hidup di alam pikiran manusia. Tersusun dari vokal dan konsonan, kata-kata mampu menjadi media penyampai pikiran. Tanpa kata-kata hidup tak akan berwarna. Dunia hanyalah tempat sunyi yang menyebalkan.

Untuk mampu menjadi penyampai, kata perlu kawan untuk menguatkan makna. Ia perlu bersatu untuk menjadi kalimat, paragraf, hingga menjadi tulisan utuh. Dia perlu intonasi agar lawan bicara, pembaca atau pendengar tak menganggapnya omong kosong. Dia kadang perlu warna, suasana, konteks atau apapun namanya agar bisa dicerna. Ia juga perlu bersama sorot mata, dengus nafas, tekanan jiwa dan yang paling utama : kesungguhan hati untuk menyampaikannya. Kata tak akan menjadi ajaib kalau tak pernah didampingi kawan-kawan setianya.

Namun ada satu misteri kata yang sampai sekarang tak juga aku mendapatkan jawabannya. Itulah kata cinta.