Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Hakikat Hidup Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Menerung — Mr. Acim @ 3:33 am

Lebaran selalu meninggalkan kesan khusus. Kalau tahun lalu aku menghabiskan hari lebaran tidak di rumah karena tergerak untuk melihat dan meliput Sumanto-manusia kanibal dari Purbalingga-yang dibebaskan dari lembaga pemasyarakatan, tahun ini ada kesan lain yang tertinggal. Lebaran kali ini adalah lebaran yang benar-benar baru karena berlebaran bukan lagi menyandang gelar karyawan seperti sebelumnya. Aku lahir kembali sebagai orang yang berbeda. Aku menjadi orang yang lebih siap menghadapi hidup dan dinamika hidup. Aku menemukan makna dari “pencarian” dan “pertarungan” tentang pilihan-pilihan idealisme dan realita.

Aku juga ingat, Lebaran tahun lalu membawa kesan berbeda bagimu, Mit. Tahun lalu Lebaranmu lebih sepi karena tak ada kakak yang berkumpul bersama keluargamu. Tahun ini pasti juga lebih berasa beda bagimu, bukan begitu Mita? Aku tak bakal lupa, tahun lalu engkau menjadi pengisi pertama buku tamu dalam blog milikku. Kau masih memakai username Sun Yi waktu itu.

Karena banyak kesan-kesan yang berbeda dari tahun lalu, itulah mengapa aku begitu yakin akan banyak yang berubah saat kau kembali ke tanah air nanti. Aku akan melihatmu sebagai orang yang berbeda, yang tidak kukenal sebelumnya. Sekarang inipun aku sudah mendapatkan tanda-tanda itu.

Seperti engkau yang menemukan cahaya terang untuk menuju jalan yang kau tempuh, pun demikian aku. Pengalaman-pengalaman hidup, kegagalan-kegagalan, nasihat-nasihat, kekecewaan-kekecewaan dan kegembiraan-kegembiraan telah membuka mata hatiku tentang jalan hidup yang harus kutempuh. Hakikat hidup adalah meraih cinta Ilahi dan selebihnya hanyalah usaha-usaha untuk mendukungnya.

Aku tahu Mit, yang kau lakukan kini adalah usaha mencari jawaban dari kegelisahan yang kau rasakan. Seperti yang kau tulis di blogmu tentang keinginan untuk menambal “lubang-lubang” atau menjadi pendidik yang bisa memberi manfaat bagi kemajuan masyarakat. Di sinilah aku menemukan siapa dirimu sebenarnya, Mit. Dan aku gembira, engkau bukanlah orang egois yang cuma peduli pada dirimu sendiri. Engkau menemukan dirimu yang sebenarnya. Deep inside my heart, I fully support you.

 

Air dan Cinta Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Menerung — Mr. Acim @ 3:30 am

Aku tak pernah mengenal Dr. Masaru Emoto. Bertemu, menyapa, berbicara atau mengirim email kepada pria Jepang itu, tak pernah kulakukan. Cuma secuil tulisannya begitu membekas dalam otak kiriku.

Mit, ia menulis tentang air dan tentang manusia. Ia menulis tentang manusia yang 80 persen tubuhnya terbuat dari air. “Manusia pada hakekatnya adalah air. Reaksi yang dialami oleh air maka akan paralel juga pada manusia juga,” begitu kira-kira inti tulisan yang aku baca dalam bukunya The True Power of Water.

Dr. Emoto meneliti tentang air yang ternyata bereaksi positif bila mendapat penghargaan dan bereaksi negatif bila mendapat celaan, hujatan dan sejenisnya. Emoto membuktikan kalau sebenarnya air adalah makhluk yang hidup, persis seperti yang disebut dalam agama kita. Air yang “dihargai” bakal menunjukkan kristal yang memiliki bentuk indah saat dibekukan. Sebaliknya air yang mendapat celaan juga membentuk kristal namun wujudnya rusak, tak teratur.

Dalam bukunya, Emoto menyinggung tentang nasi yang juga mayoritas komponen penyusunnya adalah air. Katanya, ada keluarga yang mengamati perilaku nasi. Tiga jumput nasi yang ditaruh dalam wadah, diperlakukan berbeda oleh keluarga itu. Tiap pagi, keluarga itu mengucapkan “Terima Kasih dan Cinta” pada nasi pertama. Yang kedua diberi ucapan “Kamu bodoh” dan yang terakhir didiamkan saja tanpa diberi ucapan sama sekali. Setelah diamati, ternyata nasi yang pertama paling lama membusuk alias paling awet dan nasi ke tiga adalah yang paling cepat busuk.

“Rupanya nasi lebih bisa merespon ungkapan Kamu Bodoh daripada nasi yang tak diapa-apakan sama sekali,” begitu penjelasannya. Ia lantas membandingkan dengan perilaku karyawan di perkantoran yang bakal lebih cepat stress bila tidak diberi job yang jelas dan tidak diajak bicara. Karyawan jenis ini adalah tipe nasi yang ketiga. “Ujung-ujungnya karyawan yang diperlakukan demikian akan keluar dan bisa jadi bunuh diri,” tambah Emoto.

Ada pelajaran berharga dari kisah Emoto tadi, Mit. Rupanya mencaci maki orang lain masih bisa diterima oleh yang bersangkutan daripada tidak mengajaknya bicara sama sekali. Bersikap cuek justru lebih menyakitkan dari pada bersikap memusuhi. Tapi tentu saja, jauh lebih baik memberi penghargaan kepada air atau nasi seperti kita menghargai orang lain.

 

Sewot Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Menerung — Mr. Acim @ 3:27 am

Aku tidak pernah menyangka engkau begitu sewot dengan pertanyaan-pertanyaanku. Ya…Minggu pagi itu aku kirimkan sebuah SMS tentang kegiatanmu. Kau jawab sudah berada di Hotel Atlet Century Park mendengarkan aneka ceramah. Kita lantas berbalas pesan. Tak ada hal aneh sampai aku rasakan ada emosi memendam dalam pesan-pesanmu. Engkau seperti tak terima waktu kutanya misi khusus yang kau emban di sana. Ah..kita malah berdebat tentang siapa yang keliru menafsirkan kata-kata. Aku memilih menahan diri. Mencoba mencari celah mengurai emosi yang terburai dari tiap huruf dalam pesan-pesanmu. Apalagi waktu kau mendebat tentang misi mencari beasiswa yang kusinggung.

”Mencari beasiswa tidak mungkin menjadi misi Pemprov DKI,” kira-kira begitu jawabmu waktu itu.

”Sekarang ini banyak lembaga yang lebih suka memberikan beasiswa tanpa melalui birokrasi. Mereka lebih suka langsung ke penerima,” balasku.

Engkau menjawab lagi. Kali ini suhumu lebih tinggi dari sebelumnya.

”Kalaupun diterima langsung, waktu mau berangkat tetap saja lewat birokrasi,” demikian pesan singkatmu. Kali ini engkau keluar dari rel rasionalmu, Mit. Aku memilih berhenti. Tak ada guna berdebat bila esensi pembicaraan kita melenceng dari topik.

Hari itu aku masih di atas bus AKDP menuju Semarang dari Banjarnegara. Aku tak pernah mengira obrolan kita menjadi panas membara. Beberapa kali aku tanyakan, apakah engkau sewot dengan pertanyaan-pertanyaanku. Seperti biasa, tak ada jawaban pasti. Diam adalah senjatamu. Hari itu aku tahu, rasio yang pernah kau rujuk sebagai mekanisme pertahanan diri – seperti yang pernah kau tulis dalam blog – tak lagi kau andalkan. Kau sedang berubah, Mit.

 

Hutang itu Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Menerung — Mr. Acim @ 3:26 am

Aku pernah terlilit hutang beberapa belas juta tempo hari. Meskipun kini semuanya sudah lunas, merasakan terjepit hutang adalah pengalaman tak menyenangkan. Itu pula mengapa aku lebih suka mengikhlaskan sebuah hutang daripada menagihnya sekiranya pengutang tak memiliki kemampuan atau tak kuasa membayarnya.

Saat ini pun aku punya hutang kepadamu. Jumlahnya memang tak seberapa. Sekitar Rp 20 ribu. Engkau ingat kan sewaktu kita makan di kafe Jepang di Plaza Semanggi sebelum kau bertolak ke Australia? Jumlah itu adalah separuh dari harga makanan yang kita habiskan. Saat itu, tidak biasanya kita tak sepakat siapa yang akan membayar biaya makan kita. Tak ada kesepakatan apakah aku yang mentraktir kamu, atau sebaliknya. Seperti itulah lazimnya kalau kita menghabiskan waktu makan berdua. Kau tahu, kita terlalu asyik mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari kegiatan yang bakal kau lakukan di Australia, di NTT, ngomongin Law of Attraction, hingga obrolan kita di atas bus kota. Bahkan hingga kita menghabiskan waktu belanja keperluanmu sebelum berangkat, kita tak lagi sempat membahasnya.

Aku ingin kau ingat itu Mit. Bila saatnya tiba nanti kau pulang ke tanah air, jangan kau tolak hutang yang aku bayarkan itu. Aku ingin kau terima. Barangkali kau tak menganggapnya begitu berharga, tapi bagiku ada perasaan bersalah bila tak memenuhi kewajiban ini. Hanya saja, bila sampai waktu nanti, hutang ini tak juga terbayarkan, jangan sungkan untuk mengingatkanku, Mit. Aku akan dengan senang hati menerima teguran darimu.

 

Takut Dosa Oktober 6, 2007

Diarsipkan di bawah: Menerung — Mr. Acim @ 6:34 am

Ada makhluk, ada Sang Kholik. Ada setan, ada malaikat. Ada dosa, ada pula pahala. Bulan puasa sudah hampir sampai ujung. Mestinya sudah banyak pahala yang bisa dikumpulkan untuk bekal akhirat nanti. Tetapi jujur dari lubuk hati paling dalam, ada ketakutan kalau ibadah puasa kita tidak diterima.

Mita, aku takut. Benar-benar takut. Salat malam dan zikir sesudahnya cukup membuka mata tentang banyaknya dosa-dosa yang sudah kuperbuat. sengaja atau tidak, setiap hari ada tumpukan dosa baru yang aku dapat. Sementara sapu pembersih dosa yang kupunya seperti tak berdaya akibat pekatnya noda.

Aku takut Mita. Para penceramah agama di televisi, radio, di masjid-masjid selau mengingatkan untuk khusuk beribadah. Mengajak kita mengingat Allah sang Pencipta. Setiap detik kita diminta mengingat-Nya. Setiap saat. Setiap tarikan nafas kita. Aku takut Mita, karena justru pada saat salat, aku justru lebih sering teringat dirimu….