Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Kado Ulang Tahun November 20, 2007

Diarsipkan di bawah: Memori — Mr. Acim @ 4:43 am

Aku ingat dua hari lalu engkau berulang tahun. Tak seperti biasanya, kali ini aku bahkan tak bisa mengucapkan selamat. Tidak lewat telepon maupun SMS. Aku tak tahu apakah engkau punya nomor telepon di seberang lautan atau tidak, Mit. Yang pasti, berkali-kali aku kirim SMS maupun menelpon nomormu selalu gagal.

Kalau ingat tahun lalu, barangkali engkau bakal tersenyum. Waktu itu aku bawakan engkau kado yang kubeli di stasiun Solo Balapan. Konyolnya, aku tak tahu harus dikirim kemana kado itu. Wajarlah, engkau tak pernah mau memberi alamat rumahmu, Mit. Toh bukan berarti tak ada cara. Sengaja kutongkrongi warung di samping gerbang masuk gang Bhineka. Aku tanya tentang kebiasaanmu pada penjaga warung. Aku juga tahu nama orang tuamu, keluarga, alamat tempat tinggal, dan ciri-ciri rumahmu. Tapi untuk datang langsung ke rumahmu, tetap saja ada kendala yang menghadang. Aku butuh persetujuanmu. Aku tak siap bila engkau cemberut, uring-uringan atau bahkan murka dengan tindakan lancangku.

Kini sudah setahun peristiwa itu berlalu. Rasanya engkau perlu tahu ada satu hal yang selama ini kusembunyikan. Rahasia yang kusimpan rapat-rapat bahkan kepada sahabat dan teman-teman dekatku sendiri. Sebetulnya ada dua kado yang saat itu aku kirimkan, Mit. Selain yang kutitipkan di warung, ada satu lagi yang kukirimkan langsung ke rumahmu. Lewat kurir tentunya. Itulah tart ulang tahun. Barangkali engkau bertanya-tanya karena tak ada nama pengirim di tart itu. Tapi aku sengaja. Aku tak ingin terlalu berlebihan. Lagi-lagi aku khawatir engkau bakal bersikap sebaliknya dari yang kuharapkan.

Tahun ini pula, Mit, aku merasakan banyak perbedaan. Aku tak lagi bisa mengirim ucapan, kado atau apalah namanya. Ada jarak, Mit. Yang kau pun bisa merasakannya.

 

Glodok 2 Oktober 9, 2007

Diarsipkan di bawah: Memori — Mr. Acim @ 5:40 am

Glodok pula yang sedikit membuka mataku tentang diri engkau, Mit. Lucu, aneh, heran dan tidak percaya. Itulah yang ada di benakku saat sambil berjalan menyusuri lapak-lapak engkau mengungkap sebuah rahasia yang mungkin kau tutup-tutupi di depan temanmu. Kita tengah mencari VCD The Simpson, Tin-Tin dan beberapa judul lain saat tiba-tiba kau mengajukan satu pertanyaan. “Elo pernah nonton VCD gituan?”. Aku tidak terkejut dengan pertanyaan itu dan hanya tersenyum mendengarnya. Maklum di jaman sekarang, apalagi di Jakarta, gampang sekali mendapatkan VCD demikian. Apalagi dulu waktu masih berstatus wartawan, aku kerap menyaksikan tumpukan VCD begituan hasil razia polisi di Polsek, Polres, Poltabes atau Polda. Kadang-kadang malah polisi-polisi itu dengan santai menawarkan pada para reporter untuk membawa pulang sebagian barang razia itu sebelum dimusnahkan.Toh bukan berarti aku suka menontonnya.

“Susah ya jadi cowok. Kalau bilang pernah entar dibilang demen. Tapi kalau bilang belum, dibilang munafik,” kata engkau tanpa jeda, masih sambil mencari-cari beberapa judul film kartun. Di sekeliling kita saat itu, berjejer aneka judul VCD. Termasuk yang porno.
Aku lantas membalas pendek. “Ya pernah lah,” kataku. Malah aku cerita tentang seorang teman di tempat kerja yang walaupun bertampang guru agama ternyata secara diam-diam sering menonton VCD porno di kamarnya. Aku juga bilang pernah punya cerita seru dengan seorang teman yang kini menjadi produser TV swasta saat berburu VCD di Glodok. Saat memasuki kawasan lapak, kami dicegat beberapa lelaki berciri-ciri Indonesia Timur yang menawarkan dagangannya. Semula kami ragu, tapi karena didesak, temanku itu malah tergiur. Ia menawar beberapa barang yang semua sampulnya bergambar amat vulgar. Ia akhirnya merogoh Rp 50 ribu demi beberapa keping VCD. Lucunya setelah sampai di rumah dan dicoba, teman tadi marah-marah dan ditertawakan rekan-rekannya. Gara-garanya tak satupun isi film yang diharapkan sesuai dengan gambar sampulnya. “Mending kalau film kartun. Ini lagu-lagu boyband kagak jelas. Sialan,” kata teman itu mengumpat.

“Gue belum pernah liat loh. Emang isinya kayak gituan semua ya,” kamu terus bertanya. Aku tak banyak komentar. Malu dan tentu saja jaim. Tanpa diminta engkau melanjutkan ceritamu. “Gue kan anak yang dikekang orang tua. Waktu cuma boleh nonton DVD hari Sabtu dan Minggu dari jam 12 sampai 9 malam. Lo pasti heran sama orang tua gue, kan. Tapi emang begitu,” katamu. Yang terakhir ini membuatku terkejut. Masa sih?

Terus terang aku kaget, Mit. Aku lantas mencoba menghubungkan sikap-sikap “over protektif” yang kau munculkan setiap kali kita bertemu. Aku mulai mengerti, Mit. Engkau butuh kebebasan lebih besar. Engkau ingin lepas dari kekangan itu. Tapi aku juga paham sikap ortumu. Mereka khawatir anaknya yang cantik terperosok pergaulan bebas. Mereka takut masa depanmu hancur hanya gara-gara tergoda nafsu rendahan. “Tapi gue engga mau bebas banget. Gue masih bisa jaga diri,” katamu. Kali ini aku tersenyum. Mengangguk-angguk. Dari sorot matamu aku tahu kau jujur. Aku percaya. Percaya.

 

Salah Tulis Oktober 9, 2007

Diarsipkan di bawah: Memori, Rindu — Mr. Acim @ 5:38 am

Kalau ada yang menyenangkan untuk kenangan, aku juga punya pengalaman tak mengenakan. Pertama kali bertemu engkau adalah malapetaka buatku. Aku semula membayangkan pertemuan yang manis, penuh obrolan mengasyikan atau canda tawa menyegarkan. Hehehe…sebetulnya malu mengatakannya, tapi inilah kenyataan. Tulisan di koranku adalah pemicu keisenganku. Jakfar Shodik, wartawan di koran tempatku bekerja, menyodorkan foto dan tulisan tentang kegiatan lomba news presenter di Bintaro, suatu hari di bulan Juni 2006. Aku tak begitu tertarik.

“Ah…berita biasa banget,” pikirku waktu itu di kantor kami di Biro Tangerang. Berry, redakturku, tiba-tiba berguman. “Wah…cakep”. Saat itu aku baru ngeh ada yang menarik perhatian mereka. Ternyata foto kamu di sana berikut profil singkat yang ditulis di bawah rubrik Etalase. Jakfar, anak Madura yang lugu itu, rupanya terprovokasi dan tampak bangga karena mendapat pengisi rubrik yang cantik. Ia juga nerocos kalau pengisi rubrik Etalase kali ini orangnya asyik diajak ngobrol, menarik, pintar dan sebagainya. “Aku juga dapat nomor telponnya. Feelingku sih dia yang bakal jadi juara,” katanya. “Ya kalau emang dia menang, jadiin aja dia boks (rubrik profil yang biasanya berseri),” kataku menimpali. Suasana di kantor itu lantas menjadi ramai. Beberapa bersahut-sahutan. “Ayo Fer, masa kalah sama Jakfar,” kata Danang, layouter, mengejek Feri, fotografer yang masih jomblo. “Kalau orangnya enak, mau gak ya diajak ngobrol. Gue pengen punya kenalan yang pintar ngomong dan nulis bahasa Inggris,” kataku menimpali. “Coba aja Mas. Orangnya baik kok. Ramah,” sambung Jakfar.

Malam itu tak ada yang tertinggal tentang kamu di benakku, Mit. Semuanya seperti hari-hari biasa. Deadline, berita, foto, pulang malam, lelah, ngantuk and so on. Beberapa hari kemudian aku mulai bertugas di Serang, Banten. Berita tentang hasil lomba itu muncul dilanjutkan profil sebanyak dua seri. Aku mulai penasaran setelah membaca profilmu, Mit. Aku ingin mengenal lebih dekat. Tentu berharap mendapat manfaat memperbaiki bahasa Inggrisku yang belepotan.

Iseng-iseng aku juga ketik namamu di Google dan mendapat beberapa alamat situs tentang dirimu. Aku makin penasaran dengan foto yang kau pampang. Isinya membuatku makin bersemangat. Engkau begitu hebat di sana. Kau terlihat sangat sempurna. Benarkah begitu? Aku mulai berani mengirim SMS, menelpon dan akhirnya kita janji bertemu suatu hari. Tujuannya satu : menyerahkan koran berisi tulisan-tulisan Jakfar tentang engkau. Kita janji bertemu di Wisma Relasi. Aku benar-benar girang, Mit. “I have to look perfect,” gumanku waktu itu. Tapi SMS-mu berikutnya membuatku sedikit heran. “Waktu gue engga banyak. Gue engga bisa lama-lama,” katamu. It’s ok. Aku pun meluncur, memakai motor pinjaman seorang teman. Maklum motorku saat itu kutinggal di Serang. Sempat ada perasaan tak enak karena membuatmu harus menunggu di bawah terik matahari. Ah..benar, kau sudah ada di sana.  Tapi kok ada seorang ibu berjilbab di sana. Engkau berdiri dengan tangan terlipat, wajah sedikit pucat, tangan dilipat, seperti menahankesal meski tetap tampil menarik.

Aku masih ingat Mit, engkau membawa tas agak besar seperti hendak belanja. Rambutmu dibiarkan tergerai. Beberapa helai yang jatuh di dahi mengingatkanku pada poni milik Nirina Zubir. Dengan kaos warna kuning dan celana jins dipadu sandal, engkau terlihat santai namun tetap cantik. Apalagi sapuan tipis perona pipi itu mengingatkanku pada cewek-cewek SPG di pameran-pameran di JCC. Cuma aku agak heran, kok wajah aslimu beda dengan foto yang kau pampang di internet ya? What’s wrong? Mataku yang sakit atau engkau barusan operasi plastik? Belakangan aku tahu dari engkau, teman-temanmu pun memberi komentar serupa. Mereka bila foto itu menipu.

Setelah berbelok melewati lampu merah, akhirnya aku mendekat. Menyapa. Bersalaman dan menyerahkan bungkusan koran yang kau pesan. Wajahmu cerah. Kau langsung membaca isi koran itu. Semuanya itu terjadi sembari kita berdiri di trotoar pinggir jalan. Tak ada tempat duduk, tak ada air minum. Dari wanita berjilbab di sampingmu, aku tahu kau tinggal di belakang Green Garden, Kedoya. “Cukup dekat,” kataku dalam hati. Tiba-tiba semuanya jadi kikuk. Kau memrotes isi tulisan yang memuat profilmu. “Lho kok kayak gini. Masa bapak saya ditulis almarhum, dia kan masih hidup,” katamu agak cemberut. Aku jadi nervous, gugup. Kau lagi-lagi menemukan kesalahan lain di sana. Soal umur lah, soal prestasi lah dan juga soal selalu didampingi sang ibu bila mengikuti lomba. Semuanya engkau protes. “Wartawan kan engga boleh salah menulis berita. Iya kan ma,” katamu lagi sambil melihat wajah mamamu sekilas.

Aduh…Mit…aku engga enak ati. Aku tahu banget ucapanmu tadi benar. Aku hapal di luar kepala. But it was out of my control. Aku bahkan malu mengakui kalau aku dan Jakfar satu kantor. Emang sih kita satu perusahaan, tapi kan aku sekang tugas di Banten. Aku merasa seperti cacing kepanasan saat itu. Rasanya ingin cepat-cepat pamit. Untungnya kau dan mamamu memang tak bisa lama-lama. Ya…aku lega. Bandelnya, aku masih pede mengatakan akan menelponmu di lain waktu dan meminta kau mengedit tulisanku dalam bahasa Inggris. Sesudah itu aku pamit.

Rupanya masalah belum tuntas. Aku kesulitan menghidupan sepeda motor CB100 yang tadi kubawa. Tambah malu nih, pikirku. Untung kau baik Mit. Kau hampiri aku dan dengan sopan bertanya, ada masalah sama motornya?”. Aku jawab singkat. “Gak papa kok”. Begitu motor hidup, aku ucapkan salam dan pergi. Kendati hanya bertemu beberapa menit, aku tak bisa melupakan pengalaman itu, Mit. Pulangnya aku langsung telepon Jakfar dan menyuruhnya meminta maaf. “Far, elo bikin gue malu. Pokoknya elo harus minta maaf,” kataku dengan nada keras ke Jakfar. Dari seberang telepon, aku dengan suara Jakfar berkata…iya mas…iya mas. Bahkan setiap bertemu Jakfar, aku selalu menanyakan hal itu dan selalu dijawab iya..mas…. Beberapa teman yang aku bagi kisah ini ikut tertawa. Sebagian menyalahkan Jakfar yang tidak akurat saat mencatat data dari sumber berita. Sayang, hingga hari ini Jakfar tak pernah menyampaikan maaf itu.

 

Dian Sastro Oktober 7, 2007

Diarsipkan di bawah: Memori — Mr. Acim @ 5:56 am

“Kapan ada waktu lagi, kita hunting foto yuk,” ajakku. Kau tak segera menjawab. Belum ada waktu, katamu kala itu. Kesibukan adalah kata yang kerap kau ucapkan. “Entar kalau udah ujian skripsi. Gue pengen lulus dulu,” jawabmu. Kita masih duduk di atas bangku bus kota 213 Rawamangun-Grogol lewat Sudirman. Wajahmu agak kusut. Kulitmu berkeringat. Kau agak kikuk kala kutanyakan tentang harga kamera digital yang kau punya. Kita memang sedang mengobrol tentang fotografi kala itu. “O…gitu ya. Gw kira kalau moto orang kayak di majalah atau koran itu harus minta ijin orangnya. Pantesan bisa bagus ya hasilnya,” katamu. Entah siapa yang menyuruh, aku seperti jadi dosen yang tiba-tiba lancar menjelaskan istilah fotografi dan teknik pengambilan gambar yang baik.

“Kalau kita minta ijin dulu, entar ekspresi asli orangnya engga kelihatan. Orangnya malah jadi nampang,” jelasku. Hehehe, aneh, ngapain juga aku mencoba ngasih penjelasan kalau engkau berkali-kali bilang tidak paham. “Gw engga bisa ngebayangin. Gw masih bingung”.

Ya, aku kira engkau memang kelelahan. Seharian itu, kita menghabiskan waktu menjelajah lapak-lapak buku di Kwitang, menyusuri rak-rak di Toko Gunung Agung, dan nongkrong sambil makan mie ayam di TIM. Belum lagi udara panas yang menyengat bercampur dengan asap knalpot yang bertebaran memanggang. Aku tahu kau kepanasan. Tapi seperti tak tahu diri, aku justru ke-pede-an. Aku seperti mendapat tempat untuk selalu mengambil inisiatif pembicaraan. Aku mengeluh. Tentang kepedihan-kepedihan. Tentang kekecewaan-kekecewaan. Tentang hal-hal menyakitkan selama menjadi wartawan. Aku berceramah tentang idealisme, tentang harga diri dan tentang menjaga hati nurani.

“Gue tahu, gue pernah jadi korban (orang yang tidak profesional nulis berita),” katamu sembari tersenyum. Aku melongo sejenak. Oh…rupanya engkau mengingatkanku tentang pengamalam menjadi objek berita dari koran yang tidak becus mendidik wartawannya. Terus terang, aku malu saat itu. Aku memilih menjadi orang lain yang seolah-olah tak terkait dengan perusahaan media tersebut. Padahal koran yang kau sindir adalah yang mengucuri rupiah ke rekeningku tiap bulan. Aku malu.

Di atas bus kota, obrolan kita lanjutkan. Tak banyak yang bisa kudapatkan tentang sosok makhluk cantik yang misterius di sampingku. Aku hanya bangga dan merasa berbunga-bunga, bisa jalan-jalan ditemani gadis cantik bersuara merdu bersahaja. Aku mencoba lagi mendapat jawaban tentang kesempatan bertemu dan berjalan-jalan. “Kamera gue kena virus,” kali ini kau ganti alasan. Aku tawarkan diri untuk mengatasinya. “Apa mau gw bawa dulu kameranya, entar gw balikin ke lo,”. Kau tak menjawab. “Emang kena virus apa?” tanyaku lagi. “Engga tau, tapi kalau di komputer muncul fotonya Dian Sastro,” katamu. “Apa…ada virus Dian Sastro?,” kataku heran. Kali ini matamu menyapu mukaku seperti menyelidik apakah aku benar-benar kaget atau pura-pura cari perhatian. “Hehehe ada aja orang iseng bikin virus gituan,” kataku. “Emang bener,” kini kau mencoba meyakinkan.

Kita saling pandang. Saling tersenyum dan saling tertawa. Aku bahagia. Itu senyum paling indah dan tawa paling lepas sejak kita bertemu tadi pagi. Aku pamitan karena harus turun lebih dahulu di perempatan Slipi. Kali ini dengan membawa banyak kenangan.

 

Lapak Glodok Oktober 7, 2007

Diarsipkan di bawah: Memori — Mr. Acim @ 5:56 am

Glodok. Saya tak akan pernah lupa nama itu. Di tempat inilah saya hapal di mana mencari barang elektronik murah dan mencari aneka VCD/DVD bajakan. Saya paling suka film-film peperangan, horor, film-film pemenang festival dan dokumenter. Nama Glodok menambah warna lain dalam khasanah pengalaman hidup. Sebuah tabir yang beberapa bulan sebelumnya tertutup rapat, mulai terbuka, justru bermula di kawasan ini.

“Lo sama kayak gue. Seleranya lapak,” ucapmu di ujung telepon. Hari Sabtu itu, kita sepakat ke Glodok, kawasan elektronik ternama di Jakarta Barat. Berkali-kali aku pergi ke Glodok, tapi baru kali ini ditemani wanita. “Gue cari film Tintin,” katamu kala itu. Memang kita mencari film Tin Tin. Kau sempat pula melihat-lihat VCD Jewel, penyanyi Amerika yang kau suka. Soal Jewel ini aku tahu menjadi salah satu penyanyi favoritmu dari website yang kau tulis. Sebenarnya tak banyak lagu Jewel yang aku tahu, kecuali hit pertamanya berjudul Foolish Game. Aku ingat Mit, waktu kita istirahat sehabis lelah berburu DVD, aku sodorkan buku Jewel yang kudapat secara tak sengaja waktu liputan peristiwa di Bintaro.

“Wah, lo dapat dari mana. Gue dulu nyari sampe ke Amerika,” ucapmu dengan muka berseri-seri. Aku tahu Mit, kamu sangat suka dengan syair-syair dan lagu-lagu Jewel. Lagu Goodbye Alice in the Wonderland pasti kamu hapal di luar kepala. Karena itu pula aku langsung ingat kamu dan membelinya waktu tak sengaja melihatnya di kios buku bekas di Bintaro.

“Ini buat lo, biar ingat ama gue. Bentar lagi gue balik ke Semarang dan ga tau kapan balik ke Jakarta lagi,” kataku.  Aku menolak waktu kau berniat mengganti buku itu dengan uang. “Setidaknya gue ganti ongkos lo ke Bintaro,” kau beralasan. Sikapku tak berubah. Aku tulus memberi buku itu. Buku buat orang yang aku sayang. Orang yang senyum dan cemberutnya selalu muncul dalam bayang-bayang, dalam mimpi-mimpi, dalam bentuk imej digital di folder komputerku. Aku tak mau menerima uangmu, Mit, karena kuanggap itu menghilangkan nilai dari ketulusanku.

Banyak kata yang kita tukarkan di sana. Aku masih ingat, Mit, di bangku sebuah warung, kita saling mengamati garis telapak tangan masing-masing. Kita mengamati palmistry. “Gue diramal engga akan menikah seumur hidup. Soalnya garis tangan gw ujungnya engga nyambung,” katamu. Aku kaget. Ah…apa aku juga punya nasib ramalan yang sama? Garis tapak tanganku juga tidak bertautan pada ujung-ujungnya. Tapi aku engga pernah percaya ramalan. Aku lantas berceloteh tentang kisah-kisahku. Tentang pengalaman-pengalaman. Tentang pacar-pacarku dahulu. Juga tentang kegagalan-kegagalan. Aku ingin terbuka, Mit. Mengajakmu saling berterus terang. Menghilangkan prasangka. Biar tak ada lagi curiga.

D i Glodok itu, engkau tahu siapa aku. Sayang, hanya sedikit yang aku tahu tentang kamu.