Untuk mampu menjadi penyampai, kata perlu kawan untuk menguatkan makna. Ia perlu bersatu untuk menjadi kalimat, paragraf, hingga menjadi tulisan utuh. Dia perlu intonasi agar lawan bicara, pembaca atau pendengar tak menganggapnya omong kosong. Dia kadang perlu warna, suasana, konteks atau apapun namanya agar bisa dicerna. Ia juga perlu bersama sorot mata, dengus nafas, tekanan jiwa dan yang paling utama : kesungguhan hati untuk menyampaikannya. Kata tak akan menjadi ajaib kalau tak pernah didampingi kawan-kawan setianya.
Namun ada satu misteri kata yang sampai sekarang tak juga aku mendapatkan jawabannya. Itulah kata cinta.