Ladang Cinta

Pesan dari Seberang Lautan

Cari Buku di Kwitang September 19, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Mr. Acim @ 11:27 pm

 

Belanja Lagi Nih September 17, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Mr. Acim @ 3:02 am

 

Belanja Nih September 17, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Mr. Acim @ 2:46 am

 

You Are So Beautiful September 17, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Mr. Acim @ 2:14 am

YOU ARE SO BEAUTIFUL

You are so beautiful to me
You are so beautiful to me
Can`t you see?
You`re everything I hope for
You`re everything I need
You are so beautiful to me
You are so beautiful to me.

You are so beautiful to me
Can`t you see?
You`re everything I hope for
You`re everything I need
You are so beautiful to me
You`re beautiful to me.

 

Kado Ulang Tahun November 20, 2007

Diarsipkan di bawah: Memori — Mr. Acim @ 4:43 am

Aku ingat dua hari lalu engkau berulang tahun. Tak seperti biasanya, kali ini aku bahkan tak bisa mengucapkan selamat. Tidak lewat telepon maupun SMS. Aku tak tahu apakah engkau punya nomor telepon di seberang lautan atau tidak, Mit. Yang pasti, berkali-kali aku kirim SMS maupun menelpon nomormu selalu gagal.

Kalau ingat tahun lalu, barangkali engkau bakal tersenyum. Waktu itu aku bawakan engkau kado yang kubeli di stasiun Solo Balapan. Konyolnya, aku tak tahu harus dikirim kemana kado itu. Wajarlah, engkau tak pernah mau memberi alamat rumahmu, Mit. Toh bukan berarti tak ada cara. Sengaja kutongkrongi warung di samping gerbang masuk gang Bhineka. Aku tanya tentang kebiasaanmu pada penjaga warung. Aku juga tahu nama orang tuamu, keluarga, alamat tempat tinggal, dan ciri-ciri rumahmu. Tapi untuk datang langsung ke rumahmu, tetap saja ada kendala yang menghadang. Aku butuh persetujuanmu. Aku tak siap bila engkau cemberut, uring-uringan atau bahkan murka dengan tindakan lancangku.

Kini sudah setahun peristiwa itu berlalu. Rasanya engkau perlu tahu ada satu hal yang selama ini kusembunyikan. Rahasia yang kusimpan rapat-rapat bahkan kepada sahabat dan teman-teman dekatku sendiri. Sebetulnya ada dua kado yang saat itu aku kirimkan, Mit. Selain yang kutitipkan di warung, ada satu lagi yang kukirimkan langsung ke rumahmu. Lewat kurir tentunya. Itulah tart ulang tahun. Barangkali engkau bertanya-tanya karena tak ada nama pengirim di tart itu. Tapi aku sengaja. Aku tak ingin terlalu berlebihan. Lagi-lagi aku khawatir engkau bakal bersikap sebaliknya dari yang kuharapkan.

Tahun ini pula, Mit, aku merasakan banyak perbedaan. Aku tak lagi bisa mengirim ucapan, kado atau apalah namanya. Ada jarak, Mit. Yang kau pun bisa merasakannya.

 

Gendut Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Rindu — Mr. Acim @ 3:35 am

Engga tau kenapa aku selalu ingin tersenyum sendiri kalau ingat judul itu. Pertama kali kau sebut kata gendut, kalau tidak salah waktu kita makan di restoran vegetarian di dekat Jalan Gajah Mada. Waktu itu aku bertanya apakah engkau tidak tertarik untuk mendaftar sebagai SPG acara Jakarta International Motor Show yang biasanya digelar bulan Juni-Juli. Bukan tanpa sebab aku tanya begitu. Aku pernah lihat fotomu kala menjadi SPG untuk sebuah operator CDMA Esia. Kau memakai kaos dan celana warna putih. Sayang, kualitas foto yang kau tayangkan tidak begitu tajam dan jelas.

Aku masih ingat jawabanmu kala itu. ”Itu dulu. Waktu gue belum gendut kayak sekarang,” katamu sambil cengar-cengir. Reaksiku saat itu biasa-biasa saja. ”menurut gue elo engga gendut,” balasku. Aku memang tak melihat engkau masuk kategori atau layak didaftarkan dalam klub orang-orang gendut. Engkau tidaklah segendut Tike Suriapriatna, Dewi Hughes atau si penyanyi dangdut Anisa Bahar. Hehehe, aku heran mengapa makhluk perempuan selalu cemas dengan kegendutan. Padahal sebenarnya engkau tak punya bakat gendut, Mit. Lihat saja mamamu sekarang, kurus bukan? Ada omongan ngawur tak jelas asalnya yang bunyinya begini : kalau pengen lihat seperti apa seorang cewek kalau jadi ibu rumah tangga nanti, lihat saja ibunya. Maksudnya, kalau sang ibu tampak gendut maka begitu pula bentuk badan si cewek pada saat seumur ibunya saat ini.

Setelah obrolan kita di restoran vegetarian itu, aku tak mendengar lagi kata gendut meluncur dari bibirmu, Mit. Baru setelah kita menghabiskan waktu buat belanja keperluanmu sebelum pergi ke Australia, aku dengar lagi kata itu. Kau bilang tak pede lah, tubuhmu gendut lah, pengen langsing kayak badanku-lah dan lain-lain. Aku sampai tak sempat menghitung berapa kali kau sebut kata-kata itu. Mungkin karena itulah pertama kali itu kita jalan belanja baju yang tentu saja menjadi ukuran gendut tidaknya seseorang. Aku sendiri tak begitu peduli, Mit. Engkau tak pernah kulihat dari bentuk dan ukuran tubuh. Bagiku terlalu dangkal dan picik menilai seseorang dari bentuk tubuhnya, dari ukuran-ukuran fisiknya.

Hari Minggu saat kau mulai masuk karantina, aku bertemu teman-temanku mantan wartawan-wartawan dari kantorku bekerja dulu. Kita buka bersama di Dapur Babah, restoran di dekat masjid Istiqlal. Seorang temanku tiba-tiba tertarik melihat foto-foto dari kamera digital yang kubawa. Aku tanyakan ke teman itu,” Dia gendut engga?”. Tak kusangka jawabannya membuatku nyengir. ”Iya emang gendut,” katanya tanpa dosa.

 

Feeling Guilty Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Rindu — Mr. Acim @ 3:34 am

Masih ingat waktu kita menyusuri halaman parkir Jakarta City Center (JaCC) di Tanah Abang? Aku bertanya kepadamu. “Selain merasa gendut, apa lagi yang ada dalam benakmu saat ini,” begitu tanyaku. Aku tak ingat semuanya. Tapi ada satu jawaban yang tak pernah kulupa. Kau berkata,”Gue mengerasa banyak salah sama orang”. Ah..kalau saja, aku tak disibukkan oleh motor kita yang ngadat karena kehabisan bensin, barangkali aku akan menyela dan bertanya. “Apakah salah satunya merasa bersalah kepadaku?”

Tiba-tiba saja aku jadi ingat blog milikmu, Mit. Suatu malam aku membaca salah satu postingmu yang meminta maaf kepada teman-temanmu. Posting itu kau tulis bertepatan dengan tanggal lahir seorang teman. Yang aku tahu, dari tanggalnya saja, posting itu bukan ditujukan buat diriku. Benar begitu kan, Mit? Aku juga tahu kau mengaku sulit bibirmu sulit mengucapkan kata maaf, karena itu kau memilih blog sebagai perantara.

Segera aku kirimkan pesan malam itu. Aku bilang aku barusan membaca tulisan-tulisanmu. Aku bilang aku tahu kau pernah mengalami saat kala keyakinan dan prinsip-prinsip hidupmu hancur berantakan. Aneh saja, tiba-tiba kau kirimkan pesan menanyakan apakah aku sudah memaafkanmu? Karuan aku bingung, Mit. Salah apa? Aku tidak merasa kau bersalah. Kau bilang mungkin engkau pernah cuek atau berlaku kasar sejak kita berkenalan. Aha…rupanya kau menyadari kalau selama ini sering cuek dan sengaja tak peduli dengan perasaanku. Tapi seketika pula aku berubah pikiran. Paling-paling kau basa-basi, Mit. Kau cantumkan dalam pesanmu kata MUNGKIN. Artinya, bisa benar bisa juga tidak. Atau kau cuma takut mengakui dan mencoba menjaga jarak dari kebenaran dan kenyataan? Barangkali itu hanya sebentuk ketakutanmu terhadap reaksi yang bakal aku berikan atas pengakuanmu itu. Dengan kata MUNGKIN, kau secara nyata tak mengakui secara terang-terangan kalau selama ini pernah berlaku kasar atau cuek padaku. Kau pun bisa segera membantah kalau aku ke-geer-an dan menuntut penjelasan lebih.

Entahlah, Mit. Aku tak ingin kau merasa bersalah. Aku sudah memaafkanmu, Mit. Bagiku saat itu yang kau lakukan adalah hal wajar. Meski sebenarnya aku tak tahu apa sebenarnya yang ada dalam benakmu saat itu. Sungguh aku tak tahu.

 

Hakikat Hidup Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Menerung — Mr. Acim @ 3:33 am

Lebaran selalu meninggalkan kesan khusus. Kalau tahun lalu aku menghabiskan hari lebaran tidak di rumah karena tergerak untuk melihat dan meliput Sumanto-manusia kanibal dari Purbalingga-yang dibebaskan dari lembaga pemasyarakatan, tahun ini ada kesan lain yang tertinggal. Lebaran kali ini adalah lebaran yang benar-benar baru karena berlebaran bukan lagi menyandang gelar karyawan seperti sebelumnya. Aku lahir kembali sebagai orang yang berbeda. Aku menjadi orang yang lebih siap menghadapi hidup dan dinamika hidup. Aku menemukan makna dari “pencarian” dan “pertarungan” tentang pilihan-pilihan idealisme dan realita.

Aku juga ingat, Lebaran tahun lalu membawa kesan berbeda bagimu, Mit. Tahun lalu Lebaranmu lebih sepi karena tak ada kakak yang berkumpul bersama keluargamu. Tahun ini pasti juga lebih berasa beda bagimu, bukan begitu Mita? Aku tak bakal lupa, tahun lalu engkau menjadi pengisi pertama buku tamu dalam blog milikku. Kau masih memakai username Sun Yi waktu itu.

Karena banyak kesan-kesan yang berbeda dari tahun lalu, itulah mengapa aku begitu yakin akan banyak yang berubah saat kau kembali ke tanah air nanti. Aku akan melihatmu sebagai orang yang berbeda, yang tidak kukenal sebelumnya. Sekarang inipun aku sudah mendapatkan tanda-tanda itu.

Seperti engkau yang menemukan cahaya terang untuk menuju jalan yang kau tempuh, pun demikian aku. Pengalaman-pengalaman hidup, kegagalan-kegagalan, nasihat-nasihat, kekecewaan-kekecewaan dan kegembiraan-kegembiraan telah membuka mata hatiku tentang jalan hidup yang harus kutempuh. Hakikat hidup adalah meraih cinta Ilahi dan selebihnya hanyalah usaha-usaha untuk mendukungnya.

Aku tahu Mit, yang kau lakukan kini adalah usaha mencari jawaban dari kegelisahan yang kau rasakan. Seperti yang kau tulis di blogmu tentang keinginan untuk menambal “lubang-lubang” atau menjadi pendidik yang bisa memberi manfaat bagi kemajuan masyarakat. Di sinilah aku menemukan siapa dirimu sebenarnya, Mit. Dan aku gembira, engkau bukanlah orang egois yang cuma peduli pada dirimu sendiri. Engkau menemukan dirimu yang sebenarnya. Deep inside my heart, I fully support you.

 

Air dan Cinta Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Menerung — Mr. Acim @ 3:30 am

Aku tak pernah mengenal Dr. Masaru Emoto. Bertemu, menyapa, berbicara atau mengirim email kepada pria Jepang itu, tak pernah kulakukan. Cuma secuil tulisannya begitu membekas dalam otak kiriku.

Mit, ia menulis tentang air dan tentang manusia. Ia menulis tentang manusia yang 80 persen tubuhnya terbuat dari air. “Manusia pada hakekatnya adalah air. Reaksi yang dialami oleh air maka akan paralel juga pada manusia juga,” begitu kira-kira inti tulisan yang aku baca dalam bukunya The True Power of Water.

Dr. Emoto meneliti tentang air yang ternyata bereaksi positif bila mendapat penghargaan dan bereaksi negatif bila mendapat celaan, hujatan dan sejenisnya. Emoto membuktikan kalau sebenarnya air adalah makhluk yang hidup, persis seperti yang disebut dalam agama kita. Air yang “dihargai” bakal menunjukkan kristal yang memiliki bentuk indah saat dibekukan. Sebaliknya air yang mendapat celaan juga membentuk kristal namun wujudnya rusak, tak teratur.

Dalam bukunya, Emoto menyinggung tentang nasi yang juga mayoritas komponen penyusunnya adalah air. Katanya, ada keluarga yang mengamati perilaku nasi. Tiga jumput nasi yang ditaruh dalam wadah, diperlakukan berbeda oleh keluarga itu. Tiap pagi, keluarga itu mengucapkan “Terima Kasih dan Cinta” pada nasi pertama. Yang kedua diberi ucapan “Kamu bodoh” dan yang terakhir didiamkan saja tanpa diberi ucapan sama sekali. Setelah diamati, ternyata nasi yang pertama paling lama membusuk alias paling awet dan nasi ke tiga adalah yang paling cepat busuk.

“Rupanya nasi lebih bisa merespon ungkapan Kamu Bodoh daripada nasi yang tak diapa-apakan sama sekali,” begitu penjelasannya. Ia lantas membandingkan dengan perilaku karyawan di perkantoran yang bakal lebih cepat stress bila tidak diberi job yang jelas dan tidak diajak bicara. Karyawan jenis ini adalah tipe nasi yang ketiga. “Ujung-ujungnya karyawan yang diperlakukan demikian akan keluar dan bisa jadi bunuh diri,” tambah Emoto.

Ada pelajaran berharga dari kisah Emoto tadi, Mit. Rupanya mencaci maki orang lain masih bisa diterima oleh yang bersangkutan daripada tidak mengajaknya bicara sama sekali. Bersikap cuek justru lebih menyakitkan dari pada bersikap memusuhi. Tapi tentu saja, jauh lebih baik memberi penghargaan kepada air atau nasi seperti kita menghargai orang lain.

 

Australia Oktober 23, 2007

Diarsipkan di bawah: Curhat — Mr. Acim @ 3:29 am

Australia. Negeri yang dalam istilah geopolitik disebut Asia Putih ini memberi kesan dalam bagiku dan tentu saja bagi engkau, Mita. Kau mendapat kesempatan untuk menikmati hidup di luar pagar rumah yang lama kau cita-citakan. Menetap sekian bulan di negeri seberang lautan itu. Semuanya gratis. Kau beruntung, Mit. Kau pun boleh berlega hati. Kau bisa menjadi dirimu sendiri, lepas dari bayang-bayang yang sekian lama tak kuasa kau lepaskan.

Mungkin begitu berartinya arti negeri itu bagimu, hingga kau seperti tak suka bila aku masuk dalam pikiranmu menyinggung nama itu.

”Lo mau ke Aussie, Mit? Kapan?,” tanyaku suatu hari.

”Belum tentu. Itu kan kata temen2 gue,” balasmu singkat.

Itu percakapan kita pertama tentang Australia. Setelah itu seperti gelombang pasang, ia reda.

Pentas seni itu rupanya tentang Australia juga. Karena engkau tak pernah terbuka, aku hanya menduga-duga ada gawe besar yang tengah kau kerjakan. Benar saja. Engkau tak mau diganggu barang semenit pun. Bahkan kau dengan sengaja mengaburkan informasi tentang kampung yang katakan bakal jadi tempat manggung. Sampai-sampai aku hanya bisa gigit jari karena waktu dua minggu di Jakarta hanya menjadi pekerjaan sia-sia. Aku hanya bisa bilang I miss U tanpa bisa bersua. Lagi-lagi aku tahu Mit, kau tak ingin diganggu, apalagi diajak bertemu.

Akhirnya ada yang jelas darimu, Mit. Kau tak membantah akan berangkat ke Australia. Ya…aku gembira. Aku bangga padamu Mit. Kau mampu, kau pantas mendapatkan anugerah itu.

Beruntung kau mau berbagi tentang Australia tepat sebelum kau pergi. Aku senang, kau memberiku waktu, Mit. Membuatku tahu tentang beratnya tugas yang kau emban. Dalamnya dampak bila engkau tak serius menjalankan. Termasuk pengaruhnya bagi dirimu untuk masa mendatang. Aku mengerti. Aku tahu. Maka dari itu, tak ada oleh-oleh yang kuharapkan darimu, Mit. Aku hanya ingin kau berhati-hati. Aku ingin kau selamat. Aku ingin kau sehat. Aku ingin membantumu, meski itu hanya dengan berharap.

Sayang, aku keliru lagi Mit. Aku lupa kau dipercaya menjadi moderator. Menjadi penjaga suasana acara. Menjadi pemandu. Tentu saja kau tak ada waktu apalagi untuk diganggu. Kau bilang tak ada niat berpura-pura atau tidak membalas SMS. Kau sibuk.

”Kapan-kapan gue jelasin via email. Please don’t hate me,” katamu saat itu. Aku pun menunggu. Sambil terus berharap ada pesan yang kau kirim ke inbox emailku. Saat-saat seperti ini, aku ingat suara Pasha Ungu saat mendendangkan bait lagu Masih di Sini. Aku memang bukan Pasha. Menyanyi saja aku tak bisa. Tapi aku tahu mengapa ia begitu ekspresif menyanyikannya. Ia begitu menghayati lagu itu. Ia mengerti betapa tak enaknya mengerjakan satu kata : menunggu.